ALHAS KR. — https://www.malinmudo.com

Bisa Gila Aku

Dia? Oh tidak! sekali lagi tentang dia? Kenapa ini, yaa Rabb?
Pagi ini aku datang ke kadai mak etekku, Chaniago Perabot di depan Perumahan Singgalang Tabiang Di sana kudapati udaku Aldi Abdullah Chan sedang asyik membaca. Kataku dalam hati : “Tumben dayal mambaco pagi-pagi”.
Aku coba mendekat ke arahnya dan ternyata ia sedang membaca novelku, oh tidak… Bumi Cinta kang abik.
Biarlah, kucuekin saja. Aku melangkah ke meja komputer dan kulihat layarnya masih bergerak-gerak dengan Screen Saver sia yang kayo pasti banyak pitih Apa maksud screen savernya?
Kupikir-pikir lagi. Ah sepertinya pagi ini aku tak berminat untuk berpikir. kugoyang mouse-nya kemudian kubuka microsoft word. Kuketik satu huruf Y. ya… itu saja, lalu kusimpan.
Dayal melihatku,
“Manga huruf Y sen nan ang ketik, awan?” tanya dayal padaku.
“Den taragak jo kawan den nan pakai huruf Y, dayal”
Dayal tersenyum ke arahku. Dia tahu betul siapa Y-ku.
“Taragak buliah-buliah sen, tapi jan dipaso-pasoan” ucap dayal.
“Maksud dayal a ko?” tanyaku penasaran.
“Ibo den mancaliak ang, mamikia an si Y taruih sen”
“Indak mamikian si Ye do dayal, mamikia an urang nan bainisial Y” Bantahku.
“Alah samo sen tu no. Kecek ang indak tahu den. Di buku ang ko ado namono” ujar dayal.
“Itu si Y nan lain lo tu” aku mencari-cari alasan
“Banyak bana si Ye ang mah, beko paniang lo ang, payah lo maurus no”

Sejenak aku merenung kata-kata dayal tentang si Y-ku. Betul, aku memang sering berpikir tentang si Y. Setiap kali masuk facebook langsung kubuka profile si Y. Aku lihat statusnya, gambarnya, infonya dan berulang-ulang, padahal aku tahu betul yang kulihat pasti itu ke itu juga.

Tapi perasaan apa ini yang membebaniku. Perasaan yang menggantungku di antara langit dan bumi. Oh tidak yaa Rabb. Kenapa Engkau goreskan nama si Y di hatiku? Dia membuatku resah dan gelisah. Habislah aku kurus tinggal tulang.

“A nan diang pikia an lai awan?” tanya dayal menyentak lamunku.
“Ndak do doh, dayal. Aden taragak pulang. Taragak jo angah jo ayah. Pengen den cium tangan angah jo ayah lamo-lamo. Alah banyak doso den raso no” ucapku dengan logat Kamangku.
“Baru sadar ang kini go mah” ujar dayal. Dia tersenyum.
“Iyo dayal. Insaf den raso no, alah jauah bana aden manyimpang dari anak angah nan sabananyo”
“Jan banyak na bapikia, nan ka dipanyak do’a, awan… DO’A” ucap dayal menasehatiku.
Betul, aku tahu, aku telah salah, selama ini aku hanya memperbanyak PIKIR dan aku telah lupa dengan DO’A, padahal sejak duduk di pesantren dahulu aku sudah diajarkan “DO’A ITU ADALAH RUH-NYA IBADAH”

Aku teringat masa laluku. Semua huruf-huruf Y-ku. Sejak aku kecil. Aku ingat (Y)ang mengajariku mengaji, aku ingat (Y)ang mengajakku bermain galah di waktu SD, aku ingat (Y)ang pernah aku ganggu di SD dulu, di MDA, aku ingat kalau di SD saja aku pernah menulis surat cinta untuk seseorang (Y)ang aku kagumi, mundur lagi aku mengingat masa-masa TK-ku. Masa paling indah dimana tempat TK-ku sudah dihancurkan. (Y)aa Rabb, semuanya akan kembali pada-Mu jua. Ah, untuk apa aku gila memikirkan semua Y-Y itu.

Untuk semua mereka yang berhuruf Y, kutuliskan catatan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *