ALHAS KR. — https://www.malinmudo.com

KategoriIbrah

Beda Baik dengan Dakwah Perbaikan.

ما الفرق بين الصالح والمصلح ؟
Apa bedanya Orang Baik (Shalih) dan Penyeru Kebaikan (Mushlih)..?
الصالح خيره لنفسه والمصلح خيره لنفسه ولغيره.
Orang Baik, melakukan kebaikan untuk dirinya.
Sedangkan Penyeru Kebaikan (Muslih) mengerjakan kebaikan untuk dirinya dan orang lain..
الصالح تحبُه الناس. والمصلح تعاديه الناس .
Orang Baik, dicintai manusia..
Penyeru Kebaikan dimusuhi manusia..
لماذا !!!؟
Koq gitu…?!?!
الحبيب المصطفى(صلى الله عليه وسلم) قبل البعثة أحبه قومه لأنه صالح .
Rosulullah shalallahu alaihi wa salam sebelum diutus, beliau dicintai oleh kaumnya karena beliau adalah orang baik..
ولكن لما بعثه الله تعالى صار مصلحًا فعادوه وقالوا ساحر كذاب مجنون.
Namun ketika Allah ta’ala mengutusnya sebagai Penyeru Kebaikan, kaumnya langsung memusuhinya dengan menggelarinya; Tukang sihir, Pendusta, Gila..
ما السبب ؟
لأن المصلح يصطدم بصخرة
أهواء من يريد أن يصلح من فسادهم .
Apa sebabnya..?
Karena Penyeru Kebaikan ‘menyikat’ batu besar nafsu angkara dan memperbaikinya dari kerusakan..
ولذا أوصى لقمان ابنه بالصبر حين حثه على الإصلاح لأنه سيقابل بالعداوة.
Itulah sebabnya kenapa Luqman menasihati anaknya agar BERSABAR ketika melakukan perbaikan, karena dia pasti akan menghadapi permusuhan..
( يا بني أقم الصلاة وأمر بالمعروف وانهَ عن المنكر واصبر على ما أصابك )
Hai anakku tegakkan sholat, perintahkan kebaikan, laranglah kemungkaran, dan bersabarlah atas apa yang menimpamu..
قال أهل الفضل والعلم : مصلحٌ واحدٌ أحب إلى الله من آلاف الصالحين ،
Berkata ahli ilmu:
Satu penyeru kebaikan lebih dicintai Allah daripada ribuan orang baik…
لأن المصلح يحمي الله به أمة ،والصالح يكتفي بحماية نفسه .
Karena melalui penyeru Kebaikan itulah Allah jaga umat ini..
Sedang orang baik hanya cukup menjaga dirinya sendiri…
فقد قال الله عزَّ و جلَّ في محكم التنزيل :
Allah ta’ala berfirman :
( وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُون َ).
“Dan tidaklah Tuhanmu membinasakan satu negeri dengan zalim padahal penduduknya adalah penyeru kebaikan..”
ولم يقل صالحون …
Allah tidak berfirman;
“…Orang Baik (Sholih)”
كونوا مصلحين ولا تكتفوا بأن تكونوا صالحين.
Maka jadilah PENYERU KEBAIKAN, jangan merasa puas hanya sebagai ORANG BAIK saja…
بارك الله لناو لكم جميعا

Perang Hoax

Perang Hoax.

Hari ini, ada angka-angka digital yang bisa dicopy-paste. Ini adalah hasil usaha dari zaman ke zaman sesuai dengan perkembangan. Dahulu hanya ada angka dalam benak, yang hanya bisa diungkap dengan tutur atau ucapan. Lama-lama ia menjadi angka yang bisa ditulis. Setelah ia bisa ditulis, hari ini ia bisa dicopas.

Perjalanan angka yang dulu hanya berupa ide, lalu tutur, kemudian tulis dan sampai pada taraf copas, adalah perjalanan teknologi. Jangan pungkiri. Namun titik persoalannya ialah, apakah teknologi ini masih tetap menjaga konsistensi ide yang awal?

Kita telusuri satu per satu.

  1. Taraf ide, orang tidak bisa mengcopy ide seseorang bila ide itu masih di dalam kepalanya, belum ditutur dan belum diungkapkan.
  2. Taraf tutur, orang bisa saja mendengar lalu mengerjakan ide tersebut sesuai dengan idenya.
  3. Taraf tulis, orang tak perlu bertemu dengan penutur dan pencetus ide, cukup ia mendapat bahan tulisannya, lalu melaksanakan ide.
  4. Taraf jiplak, alias copas.
    Pada masa terakhir ini, saya tuturkan bahwa jiplak ada baiknya tapi ada juga buruknya.

Baiknya, kita dari kecil menjiplak. Meletakkan kertas transparan lalu menoreh garis. Sehingga kita mendapatkan gambar persis dengan aslinya. Kita dulu waktu kecil senang melakukan ini.

Buruknya, kita kehilangan kreativitas karena menjiplak. Kita hanya menyalin garis yang telah ada. Sehingga bila kita rujuk ke atas. Taraf jiplak sudah membuat orang tak lagi punya ide. Untuk membuat orang kreatif meskipun setelah ia menjiplak, kita butuh taraf selanjutnya. Apa taraf selanjutnya itu?

Taraf yang perlu kita munculkan selanjutnya, yaitu :

5. Taraf modif atau modifikasi. Taraf ini adalah mengubah sisi jiplak agar tak terlalu mirip dengan ide awal. Taraf modif ini sebenarnya lebih parah lagi dibandingkan dengan yang ke-4. Taraf ke-5 ini seakan-akan adalah pemalsuan. Mengubah ide asal, lalu seolah-olah ide terakhir ini adalah miliknya.

“Seolah-olah milik kita” inilah yang dihasilkan oleh teknologi. Teknologi adalah kemampuan menghasilkan “seolah-olah”. Lihatlah mereka yang menggunakan gadget, buat menampakkan seolah-olah kaya, seolah-olah liburan ke luar negeri, seolah-olah punya mobil, seolah-olah punya dll.

Bijaklah dalam berteknologi.
Salam Sekolah Alam,

Alhas K. Ridhwan, www.malinmudo.com

Belajar dari Thalhah

Thalhah bin Abdur Rahman bin ‘Auf adalah keturunan Quraisy yang sangat dermawan di zamannya, maka suatu hari istrinya berkata padanya :

“Aku belum pernah mendapati suatu kaum yang lebih pantas mendapat kehinaan, kecuali hanya saudara-saudaramu?”

Berkata Thalhah kepada istrinya : “Apa yang menyebabkan kamu berkata demikian?”

Istri Thalhah menjawab : “Saya lihat mereka, bila kamu dalam keadaan kaya raya, mereka datang padamu, bila kamu tak punya apa-apa, mereka pergi meninggalkanmu begitu saja,”

Berkata Thalhah : “Ini, demi Allah, adalah tanda mulianya akhlak mereka, mereka datang pada waktu kita sanggup memuliakan mereka, dan mereka meninggalkan kita di saat kita tidak mampu memuliakan mereka.”

Yang menceritakan kisah ini kembali adalah Imam Mawardi, ia berkata : “Lihatlah betapa Thalhah mengartikan kejelekan perbuatan mereka dengan kebaikan. Ini adalah tanda selamatnya hati Thalhah, tenangnya jiwanya di dunia, serta menjadi bekal simpanan baginya kelak di akhirat, dan sebab-sebab yang akan memasukkan seseorang ke dalam surga.”

Bersyukurlah Mereka yang Telah Menikah

Bersyukurlah mereka yang telah menikah

Karena ada seorang laki-laki, karena kebodohannya di masa lalu

Kekasihnya lari merajut mimpi dengan lain laki-laki.

Bersyukurlah mereka yang telah menikah

Karena ada seorang laki-laki, karena jarang sekali bertemu

Kekasihnya disegerakan orang tuanya menikah, ia pun langsung mau.

Bersyukurlah mereka yang telah menikah

Karena ada seorang laki-laki, karena tidak terlalu mendalami agama

Kekasihnya acuh tak acuh, mencari-cari alasan untuk meninggalkannya.

Bersyukurlah mereka yang telah menikah

Karena ada seorang laki-laki, karena terlalu lama menunggu

Kekasihnya ketika ditawarkan menikah oleh laki-laki lain, ia menerimanya.

Bersyukurlah mereka yang telah menikah

Karena ada seorang laki-laki, karena trauma ditinggal tunangannya

Ia menceburkan diri ke dalam dunia kelam.

Bersyukurlah mereka yang telah menikah

Karena ada seorang laki-laki, di ambang usia tuanya

Ia belum dikaruniakan seorang pendamping hidupnya.

Bersyukurlah mereka yang telah menikah

Karena ada seorang laki-laki, meski kaya raya

Kekasihnya tak mau menerima lamarannya.

Bersyukurlah mereka yang telah menikah

Karena ada seorang laki-laki, sudah bolak-balik memohon Tuhan

Tapi saat dikaruniakan, ia malah enggan

Bersyukurlah mereka yang telah menikah

Karena ada seorang laki-laki, pikir ini pikir itu

Tidak jadi mengajukan lamaran

Bersyukurlah mereka yang telah menikah

Karena ada wanita, sudah lama menunggu

Kekasihnya tak juga datang melamarnya.

Bersyukurlah mereka yang telah menikah

Kumpulan Hadits Tentang Qur’an

1. Sebaik-baik Insan ialah yang mempelajari Al-Qur’ân dan mengajarkannya.
Dari Utsmân ibn ‘Affân Ra. bahwa sesungguhnya Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam telah bersabda : Sebaik-baik golongan kamu ialah siapa yang mempelajari Al-Qur’ân dan mengajarkannya. [HR. Bukhâri dan Muslim di dalam buku Shahih mereka].


2. Mempelajari 10 ayat dari Al-Qur’ân lebih baik dari berdagang.
Dari ‘Uqbah ibn ‘Âmir Ra. bahwa sesungguhnya Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda : Siapakah di antara kalian semua yang mau berangkat ke Buth-hân (suatu tempat di Madinah) atau berangkat ke ‘Aqîq (suatu lembah di pinggiran Madinah), lalu ia pulang dari sana dengan membawa dua ekor onta kawmâwaini (yang tinggi punduknya) tanpa dosa dan tanpa memutuskan tali silatur rahmi? Maka kami berkata : “Masing-masing kami menyukai hal itu yâ Rasûl,” kemudian Rasûl bersabda : Tidakkah kalian mau berangkat ke masjid lalu belajar, atau membaca 2 ayat dari Kitâbullâh ‘Azza wa Jalla, maka hal yang demikian itu lebih baik bagi kalian dari pada mendapat 2 ekor onta. 3 ayat lebih baik dari 3 ekor onta. 4 ayat lebih baik dari 4 ekor onta, dan dengan bilangan itu seterusnya. [HR. Muslim di dalam buku Shahih-nya]


3. Qâri’ Al-Qur’ân (yang membacanya) seakan bersatu dengan derajat kenabian.
Dari ‘Abdullah ibn ‘Amar Ra. bahwa sesungguhnya Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda : Siapa yang telah membaca Al-Qur’ân maka ia telah menyatu dengan derajat kenabian, hanya saja tidak diwahyukan kepadanya. Tidak selayaknya bagi mereka yang membaca Al-Qur’ân untuk marah seperti orang-orang lain marah dan tidak selayaknya pula bagi mereka yang membaca Al-Qur’ân untuk berbuat jahil seperti orang-orang lain berbuat jahil, padahal bibirnya telah membaca Kalâm Allah. [HR. Hakim di dalam buku Mustadrak-nya]


4. Balasan bagi yang mahir dengan Al-Qur’ân dan yang kesulitan membacanya.
Dari ‘Âisyah Ra. bahwa sesungguhnya Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda : Yang membaca Al-Qur’ân sedangkan ia mahir dengannya maka ia berserta As-Safaratul Kirâmul Bararah (Malaikat yang melakukan perjalan di langit, lagi mulia serta luhur budi mereka). Dan yang membaca Al-Qur’ân tapi ia mengalami kesulitan, baginya 2 pahala. [HR. Tirmidzî di dalam buku Sunan-nya]

5. Siapakah mereka Ahlu Allah Ta’âla?
Dari Anas Ra. bahwa sesungguhnya Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda : Sesungguhnya Allah Ta’âla memiliki ahlu (orang-orang terdekat) dari golongan manusia, para sahabat berkata : “Siapakah mereka itu yâ Rasulallâh?” Rasul bersabda: Ahlul Qur’an (mereka yang senantiasa membaca dan mengamalkannya) mereka itulah ahlu Allah Ta’âla. [HR. Nasâ’i, Ibnu Mâjah dan Al-Hâkim dengan sanad yang shahih]


6. Siapakah yang dicintai oleh Allah Ta’âla?
Dari ‘Abdullah ibn Mas’ûd Ra. bahwa sesungguhnya Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda : Siapa yang ingin agar ia dicintai oleh Allah Ta’âla dan Rasul-Nya, maka lihatlah, apabila ia mencintai Al-Qur’ân berarti ia mencintai Allah Ta’âla dan Rasul-Nya. [HR. Thabrâni dengan rijâl-nya tsiqât]


7. Apa yang lebih baik dari shalat 100 raka’at? atau dari shalat 1.000 raka’at?
Dari Abu Dzar Ra. bahwa sesungguhnya Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda: Wahai Abu Dzar, engkau berangkat di waktu pagi kemudian belajar 1 ayat dari Kitâbullâh lebih baik bagimu dari pada melaksanakan shalat 100 raka’at. Dan engkau berangkat di waktu pagi kemudian mengajarkan satu bab ilmu, baik ilmu itu dikerjakan orang atau tidak, maka perihal yang demikian lebih baik dari pada melaksanakan shalat 1.000 raka’at. [HR. Ibnu Mâjah di dalam buku Sunan-nya dengan sanad yang hasan]


8. Siapakah yang terbaik bacaannya terhadap Al-Qur’ân?
Dari Ibnu ‘Umar Ra. bahwa sesungguhnya Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai siapa yang paling bagus suaranya di saat membaca Al-Qur’ân, maka beliau bersabda : Siapa yang apabila kamu mendengar bacaan Al-Qur’ân-nya, kamu melihat ia takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla. [HR. Bazzâr dengan rijâl-nya tsiqât]


9. Orang yang membaca Al-Qur’ân di hari qiyâmah.
Dari ‘Abdullah ibn ‘Amar ibn Al-‘Âsh Ra. bahwa sesungguhnya Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda : Dikatakan kepada shâhibul qur’ân (mereka yang senantiasa mempelajari dan mengamalkan Al-Qur’ân), bacalah serta naiklah ke derajat yang tinggi, kemudian bacalah dengan bacaan yang bagus sebagaimana dahulu kamu pernah melakukannya di dunia. Sesungguhnya derajatmu ialah pada akhir ayat yang kamu baca. [HR. Ibnu Hibbân di dalam buku Shahih-nya]


10. Satu huruf dari Al-Qur’ân sama dengan satu kebaikan dan satu kebaikan dibalas dengan 10 pahala.
Dari ‘Abdullah ibn Mas’ûd Ra. bahwa sesungguhnya Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda : Siapa yang membaca satu huruf dari Kitâbullâh maka baginya satu kebaikan, sedang satu kebaikan itu dibalas dengan 10 pahala. Aku tidak berkata alif lâm mîm adalah satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, lâm satu huruf dan mîm satu huruf. [HR. Tirmidzî di dalam buku Sunan-nya]

11. Orang yang membaca Al-Qur’ân tidak akan dikembalikan oleh Allah Ta’âla pada usia tua renta.
Dari ‘Abdullah ibn ‘Abbâs Ra. ia berkata : “Siapa yang membaca Al-Qur’ân, maka ia tidak akan dikembalikan oleh Allah Ta’âla pada usia tua renta, itu karena firman-Nya : Kemudian Kami kembalikan ia (manusia) ke tempat yang terendah, kecuali orang-orang yang beriman…,[QS. At-Tîn (95): 5-6] Ibnu ‘Abbâs melanjutkan : “yaitu mereka yang membaca Al-Qur’ân.” [Diriwayatkan oleh Al-Hâkim di dalam buku Mustadrak-nya]


12. Siapa yang menghafal Al-Qur’ân dan mengamalkan hukum-hukumnya kelak memberi syafa’at di hari qiyâmah.
Dari ‘Ali ibn Abî Thâlib Ra. bahwa sesungguhnya Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda : Siapa yang membaca Al-Qur’ân, lalu ia mengamalkannya, menghalalkan apa yang dihalalkannya dan mengharamkan apa yang diharamkannya maka Allah Ta’âla akan memasukkannya ke dalam surga dan memberikannya kesempatan untuk mensyafa’ati 10 orang dari keluarganya yang sudah ditetapkan oleh Allah Ta’âla untuk memasuki neraka. [HR. Tirmidzî dan Ibnu Mâjah di dalam buku Sunan mereka]


13. Kemuliaan bagi siapa yang senang mempelajari Al-Qur’ân dan kebahagiaan untuk mereka.
Dari ‘Abdullah ibn ‘Umar Ra. bahwa sesungguhnya Rasulullâh shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda : Tidak boleh dengki selain kepada 2 orang : Laki-laki yang diberi oleh Allah Ta’âla Kitâb ini (Al-Qur’ân), kemudian ia mengamalkannya siang dan malam. Dan laki-laki yang diberi oleh Allah Ta’âla kekayaan, lalu ia bersedekah dengannya siang dan malam. [HR. Bukhâri dan Muslim di dalam buku Shahih mereka]
Yang dimaksud dengan dengki di dalam hadits tersebut ialah dengki dengan tujuan agar kelak memperoleh hal yang seperti itu pula, bukan dengki agar nikmat itu hilang dari pemiliknya.

Dunia Ini

“Sesungguhnya perumpamaan Dunia itu ibarat semut dimasukkan ke dalam gelas yang kosong, sedangkan semut itu senantiasa bersabar menunggu rizkinya dari pemilik gelas. Akan tetapi kesabaran itu tidak sanggup ia tahan, hingga ia meminta pemilik gelas untuk memberinya nikmat yang sangat banyak, supaya semut itu menjadi golongan yang bersyukur. Hingga suatu hari pemilik gelas memberinya gula yang banyak, sampai-sampai semut itu merasa senang. Sang Semut lalu berputar-putar di dalam gelas karena ia merasa sudah mendapat rizki yang banyak dan merasa umurnya akan panjang, namun pemilik gelas ingin mengeluarkannya dari gelas itu, tapi semutnya tak mau, ia merasa sombong bahkan ia menjadi seorang yang sangat ingkar. Di akhirnya, pemilik gelas memasukkan air panas ke dalam gelas, larutlah gulanya, sang semut matilah ia, bahkan semut itu termasuk golongan yang sangat merugi.”

Ditulis oleh Alhas K. Ridhwan Malin Mudo