ALHAS KR. — https://www.malinmudo.com

KategoriFamili

Keluargaku

Dan betapapun jayanya aku sampai saat ini adalah berkat kapal sebiduk yang kadang oleng kadang terlamun oleh ombak, yaitu Keluargaku. Tersebutlah alkisah, telah ditakdirkan oleh Allah dan ditetapkan oleh zaman bahwa nakhodanya ialah seorang fotografer amatir dari Kamang Tangah, beliau ringkaslah sebutan itu dengan nama FAKTA (Fotografer Amatir Kamang Tangah). Orang sekampung mengenal beliau dengan “Pak Pud nan Panjang Abuak”. Ciri khas itu tak lepas dari diri beliau sampai adik kandungku si bungsu Wahdina menamatkan kuliahnya. Tuhan Allah mengizinkan beliau berpanjang rambut selama 40 tahun. Luar Biasa. Beliau itu adalah ayahku. Yang bacaan Al-Qur’an beliau setiap pagi di masa-masa aku kecil mengisi kepalaku. Yang dengan kata-katanya aku jadi ciut, kadang takut, tapi berkat kata beliau juga aku berani dan aku menjadi. Beliaulah nakhoda kapal itu. Nama beliau SYAFRUDDIN Saidi Mangkuto BIN ANAS Saidi Batuah.

Tersebut pula wanita cantik rupa, manis tutur katanya, lemah lembut jiwanya, keturunan asli Rang nan Basuku Chaniago, 6 orang bersaudara. Beliau ini adalah yang keempat dari berenam. Beliau pula yang menghuni rumah di kampung. Amat pintar beliau memasak. Rendang buatan beliau belum pernah aku temukan tandingannya sampai aku berumur 28 tahun ini, bahkan sampai aku menjelang masa pernikahan ini. Asalkan dapat oleh beliau bajuku terserak di kamar, alamat baju itu akan hilang oleh beliau, beliau sembunyikan entah, beliau buang entah. Bila aku hendak pergi raun bermain dengan teman-temanku, maka bila aku belumlah makan, beliau teriaki aku dari rumah, beliau suruh aku makan. “jan main ka main sen pangana ang buyuang, alah makan bagai ang?” kata beliau padaku. Beliau Bernama ELVIATI BINTI JAMARAN Sutan Mudo.

Aku adalah anak pertama dari buah manis pernikahan ayah Syafruddin dan angah Elviati. Anak nan tinggi kalau dijuluak jatuah juo. Anak nan jauah kalau dihimbau musti babaliak pulang. Anak nan gadang kalau disarayo haruslah bajalan. Akulah permata pertama hidup mereka, yang esok sudahlah akan diambil oleh anak gadis orang untuk dijadikan suaminya.

Maka tidaklah aku duduk di malam ini di hadapan monitor mengetik kalimat dan kata-kata sebagai pengisi-isi waktu luangku. Sekali-kali yang demikian itu tidak. Melainkan adalah rasa syukurku yang tak terhingga, tak terhasta, terhadap ayah dan angahku, dua permata yang menghiasi hidupku. Berkah Allah jualah Ayah dan Angah membesarkan aku, menyekolahkan, menamatkan kuliah, mempersitungkinkan, dan mendidikku penuh sayang rindu, hingga saat ini saat kutuliskan kata-kata ini belumlah bisa aku membalas budi kepada mereka berdua. Jika berkenan izin dari Allah, kelaklah jua aku bisa memperlihatkan kepada mereka karunia Allah yang mulia melalui perantaraan tanganku.

Ayah dan Angah, ma’af kupinta dari lubuk hati nan dalam dan berkah dari ridhomu, izinkanlah anakmu Si Buyuang Nan Mada ini mengikuti sunnah Rasulullah esok Sabtu 1 Dzulqaedah 1434 hijriyah, membangun rumah tangga dengan mahligai Ridho darimu. Bila adalah khilaf dan kesalahan yang belum berkenan di hatimu karena ulahku, atau sekira-kira pernah tingkah kurenah yang kuperlihatkan mengganjil di dalam pandanganmu, kupintakan kepada Allah, sudilah hendaknya Ayah dan angah memberi ma’af.

Pada Allah aku hamba-Nya nan Dho’if ini bermohon, berkahilah pernikahanku, limpahkan rahmat dan ridho dari-Mu untuk keluargaku. Jadikan kami hamba yang ikhlas dalam menerima ketetapan dariMu, amiin ya Rabbal ‘Alamiin.

Kalau Kamu Kena Knalpot

Kalau Kamu Kena Knalpot

Pagi ini ada sepeda parkir di depan pintu gerbang sekolahalam minangkabau. Sepedanya kecil. Sangat kecil. Standarnya sudah patah. Roda bantunya copot. Remnya blong. Kring-kringnya macet, kalau dipencet ia akan berbunyi krusuk-krusuk. Warnanya meluntur. Apa penyebab semua ini? Apakah waktu sudah mengikis usia sepeda kecil itu? Pengen tahu bagaimana perjuangan sepeda itu mempertahankan hidupnya? Hmm…, begini kisahnya.

Enam bulan yang lalu, sepeda itu punya roda bantu di kiri kanannya. Selain itu, karena ia baru keluar dari pabrik otomatis bodinya yahud, seksi dan menggiurkan. Semua orang pasti ingin mengendarainya. Tapi mohon ma’af hanya untuk 5 tahun ke bawah. (gila bener, biasanya sering nulis 17+, nah sekarang malah 5- hehe…)

Pemiliknya bernama Luki. Hanya Luki (adik kecilnya Gita) yang memakainya. Tapi sejak kediamannya berpindah dari rumah ke sekolahalam, sepeda kecil itu seperti kancil masuk sarang harimau. Seperti burung dipasung dalam sangkar. Nasibnya terlunta-lunta dan tak terawat. Tahu kenapa? Karena setiap anak-anak, baik yang berumur 7 sampai 12 mengendarainya juga. Bobot beban yang ditahan oleh sepeda kecil itu, tak sesuai dengan porsi badannya yang mungil. Untung saja, tidak berlaku ayat laa yukallifullaahu nafsan illaa wus’ahaa (Allah tidak membebani seorang hamba selain sesuai kesanggupannya).Andai sepeda itu bernafas dan bisa bicara, tentu ia akan berdo’a kepada Allah, katanya “Yaa Rabb, manusia-manusia ciptaan-Mu telah meletakkan beban di pundakku apa-apa yang aku tidak sanggup memikulnya.”

Sepeda kecil, ma’afkan aku. Aku tak sanggup menyelamatkanmu.

Seiring berjalannya waktu, pagi ini sepeda itu parkir di depan gerbang. Tepat di depan gerbang, sehingga menghalangi jalanku masuk. Saat aku melewatinya dengan motor, aku pun harus memiringkan motor melewatinya, dan saudara-saudara tahu apa akibat memiringkan motor tidak pada tempatnya? (memangnya ada tempat khusus buat miring-miringin motor? Oooo, ada, di arena balap tentunya) Dampak negatif memiringkan motor ialah kakiku kena knalpot!!

Meradang dan menerjang. Hanya itu yang ingin kulakukan ketika knalpot mencium kakiku. Tapi berhubung banyak anak-anak yang melihat, akhirnya kuputuskan untuk menahannya bak superhero. Allahu Akbar…, Allahu Akbar…, Allahu Akbar…, (lho kenapa jadi takbiran??? Karena aku tak sanggup juga menahannya, wooow…)

Peristiwa dicium knalpot itu mengingatkan aku pada kisah 19 tahun lalu, saat aku berumur 7 tahun. Adikku yang bernama Mila baru saja selesai bermain. Aku tak tahu dia main apa, tapi tiba-tiba saja dari arah kamar mandi aku mendengar rintihan suara. Suara anak kecil menangis. Saat mendekat kamar mandi kudapati pintunya terkunci dari dalam.

“Eit…, Mila.., Mila di dalam???” tanyaku dari luar. Tak ada jawaban, yang kudengar hanya tangisan.

Kupukul-pukul pintu kamar mandi, “Mila.., Mila di dalam???” tanyaku sekali lagi. Masih saja terdengar suara anak kecil menangis. Aku penasaran, gelisah, dan risau, aku tak tahu apa yang menimpa anak kecil itu di dalam sana. Apa benar dia Mila atau malah si Dina, adikku yang bungsu. Perasaanku mulai berkecamuk. Ada apa dengan salah seorang dari mereka?

Kupukul-pukul lagi pintu kamar mandi. “Buka pintu!!! Buka!!” teriakku. Belum ada reaksi kimia dari seberang. Mila entah Dina masih saja diam di sana.

Akhirnya aku pun melunak. Aku tegur dengan nada yang lebih lembut.

“Milaaa…, Mila di dalam?? Sedang apa Mila?” tanyaku dengan nada di tingkat do (maksudku nada paling dasar)

Iyo, da.., Sila di dalam,” Mila menyebut dirinya dengan panggilan ‘Sila’. Ia terus menangis.

“Buka pintunya Mila, ada yang bisa uda bantu?” Dua menit lamanya Mila memutuskan untuk membuka pintu untukku. Akhirnya ia membukakan juga. Kudapati seember air ada di depan Mila. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam air ember itu sambil terus menangis.

Manga, Sila?”(ada apa Mila?) tanyaku. Dia Diam, tapi tangannya masih ia gerak-gerakkan di dalam air. Tangisannya terus mengalir. Aku pun jadi penasaran hal apa yang menimpa Mila. Kenapa ia mencuci tangannya sambil menangis. Aku pun jadi curiga, jangan-jangan…. ia kehilangan jarinya (woow, lebai dech aku…)

Manga, Sila?caliak uda tangan Sila..”(ada apa Mila? Lihat Uda tangan Mila..) kataku pada Mila.

Dengan nada sendu sambil menangis, Mila menjawab.

“Jan kecek-kecek an ka ayah jo a ngah ndak, da. Sila takuik kanai bangih…” (jangan bilang sama ayah dan ibu ya, Uda, Mila takut dimarahi)

“Emang manga Sila?” (kenapa Mila emangnya?)tanyaku.

“Tangan Sila tabaka”

Maa Sya Allah, Mila…Mila, kalau kena api tangannya jangan direndam air!!! Bisa tambah perih. Pantesan ia terus menangis, saat merendam tangannya ke dalam air ember.

Ya Allah, siapa gadis kecil ini yang Engkau kirim kepadaku sebagai adikku. Tak terbendung air mataku melihat keluguannya dan kepolosannya menghadapi alam ini. Api dalam pikirannya akan padam bila direndam dengan air, maka saat terbakar kena api pun, ia mengira air dapat menyejukkan tangannya.

Ya Allah, ya Allah… aku mencintai gadis kecil ini dari gadis mana pun. Aku peluk dia. Lalu aku oleskan Pepsodent ke tangannya. Saat itu yang kutahu hanya Pepsodent yang dapat menyejukkan luka bakar. Lain dari pada itu tidak.

Kini, pada tanggal 22 ini, sebulan lagi adik kecilku Mila itu akan berulang tahun, peringatan untuk ulang tahunnya yang sebulan lagi kutulis kisah ini untuknya. Mila, selamat ulang tahun, jadilah adik yang baik, wanita yang shaleha untuk suami Mila.

Mila, coba Mila lihat, hari ini kaki uda kena knalpot! (hehe…, udah agak baikan kok, sebab dikasih Propolis punya buk Miya. Trims Buk Miya… 🙂

Ditulis oleh Alhas K. Ridhwan Malin Mudo