ALHAS KR. — https://www.malinmudo.com

KategoriOpini

Rasa Syukur Memiliki Anak

Anak adalah anugerah dari Allah Yang Maha Pemberi. Tidak semua mereka yang telah berkeluarga memiliki anak. Hal ini berarti, anak adalah pemberian yang patut disyukuri. Paradigma ini (bersyukur memperoleh anak) merupakan titik tolak utama kita untuk memulai pendidikan mereka. Orang yang bersyukur lebih mudah mendidik anak dibanding mereka yang merasa bahwa memiliki anak hanyalah sebuah beban.

Betapa banyak kita perhatikan keluarga yang memiliki anak namun tak mampu memberikan pendidikan kepada anak-anaknya. Karena ketidakmampuan ini, anak-anak mereka lebih sering diajak bermain oleh si smartphone, dinasehati oleh si youtube, dipeluk oleh si boneka dan dibimbing oleh si sinetron antah berantah. Hal ini terjadi karena dalam mindset orang tua bahwa anak adalah urusan kedua setelah pekerjaan.

Paradigma keliru ini sudah mesti berganti. Anak adalah pemberian Tuhan. Mereka bukan mesin, bukan pula benda yang dapat diserahterimakan begitu saja kepada smartphone, youtube, boneka atau sinetron. Mereka mesti mendapatkan sentuhan, pelukan, kata-kata, ajakan, diskusi, tukar pendapat, cerita dan ataupun dongeng dari Ayah Bundanya. Sebab Ayah Bundanya lah yang terdekat dengan mereka semenjak mereka lahir.Maka tidaklah mengherankan bila leluhur kita berkata : “Madrasah pertama anak adalah ibunya, lalu ayahnya, kemudian keluarganya, setelah itu masyarakat sekitarnya.”

Ayah Ibu sebagai sekolah pertama. Dalam pengelolaan sekolah ini tentunya dituntut rasa syukur yang begitu dalam. Rasa berterima kasih kepada Allah bahwa anak adalah karunia. Lihatlah Ibrahim yang memuji Tuhan atas karunia anak yang ia peroleh [QS. 14:39]. Ini merupakan starting point kita bila ingin berlari cepat di jalur pendidikan. Tanpa syukur ini, jangan harap anak bisa merasakan pendidikan lebih baik.

Qur’an yang Bukan Teks

Al-Qur’an bukanlah buku yang kamu beli dari toko-toko buku seharga sekian ribu, di luarnya berlabel Al-Qur’anul Karim cetakan Penerbit A, B dan C lalu kamu bawa pulang ke rumah untuk kamu baca atau kamu suruh anakmu membacanya. Itu bukanlah Al-Qur’an. Itu hanya sebuah teks yang tiada berarti sebab itu kamu tidak akan memperoleh berkahnya hanya karena membaca dari buku yang sudah kamu beli itu. Itu hanyalah kumpulan teks, semerdu dan sehebat apapun teknikmu membacanya, ia hanyalah teks yang dibaca. Saya entah perlu mengatakan beruntung atau merugi mendapati Al-Qur’an yang dibeli dari toko buku seperti ini. Sebab ia hanya teks.

Yang pantas dikatakan beruntung menurut saya ialah mereka yang dikirimi Mushaf Qur’an oleh Khalifah Utsman Bin ‘Affan, baik dikirim ke Madinah, ke Mekkah, ke Bahsrah, ke Kufah dan ke Syam. Sebab mereka dikirimi sebuah Mushaf yang berupa teks langsung dikirimkan bersama itu para pembacanya, yang diistilahkan sekarang dengan sebutan Muqri’. Muqri’ ialah orang yang akan mengucapkan Qur’an sebagaimana Rasul mengucapkannya, sehingga misinterpretasi menjadi lebih sedikit. Mereka yang dapat kiriman Utsman ini benar-benar beruntung. Sebab teks diperoleh dengan dikirimi orang yang bertugas membenarkan membacanya bila salah.

Mencontoh ke teknik Ustman ini, artinya, sekarang bila ada yang membeli Qur’an tapi ia tidak membeli Muqri’nya bisa saja ia tersesat di dalam teks.

Maka wajarlah memprihatinkan jika anak-anak sekarang mempelajari Al-Qur’an. Bukan saja anak-anak sekarang, saya pun yang mempelajarinya mesti pula merasa prihatin. Muncul tanya-tanya dalam benak saya :

  1. Sudah betulkah cara saya membacanya sehingga pemahaman saya pun betul?
  2. Sudah seperti itukah maunya Rasul dalam pemahaman saya sehingga yang saya pahami dapat pula saya praktikkan dengan betul?
  3. Bila sudah saya praktikkan dengan betul, apalagi yang mesti saya praktikkan dari Qur’an itu?

Wahai saudara, hari ini kita hanya membaca Qur’an yang berupa teks itu, padahal Qur’an di zaman Rasul mengalir dari mulut beliau tanpa beliau melihat teks seperti kita melihat Qur’an sekarang.

Qur’an yang kita peroleh hari ini adalah teks yang dibaca. Teks yang dibaca tidaklah sama dengan bacaan yang ditekskan di zaman Rasul. Berbeda rasa.

Miskonsepsi Hati

Dalam aktivitas keseharian, kita sering mendengar orang-orang di sekitar kita berkata : “Kalau hati tenang, maka urusan menjadi mudah.” “Tiangnya adalah hati, kalau hati mau semua perkara dapat diselesaikan.” Kalimat-kalimat itu sering terucap, berseliweran di sekeliling kita.

Tapi pernahkah kita bertanya, apa maksud sebenarnya dari kata “Hati” itu? Benarkah “Hati” sumber kemudahan? Benarkah “Hati” yang berkehendak? Padahal sebagaimana yang telah kita pelajari di dalam ilmu-ilmu Sains bahwa hati adalah organ vital bagi tubuh manusia yang berfungsi menawarkan dan menetralisir racun yang masuk ke dalam tubuh, mengatur sirkulasi hormon, mengatur komposisi darah yang mengandung lemak, gula, protein, dan zat lain. Sama sekali hati itu tidak punya fungsi kemudahan! Ia tidak punya fungsi kehendak dan hasrat!

Dengan kata lain, sejak kita mengenal bahasa Indonesia, kita telah salah menggunakan kata “Hati” di dalam percakapan kita sehari-hari. Siapa tokoh utama yang paling bertanggung jawab, yang telah membuat kita menjadi orang salah dalam menggunakan kata “Hati”?

Untuk menjawab semua itu, saya akan mengajak pembaca merujuk kepada Naskah Al-Qur’an Surat Ar-Ra’du [13] ayat 28 :

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Artinya : “Mereka yang beriman dan tenang Qalbu-qalbu mereka dengan zikir Allah, apakah tidak dengan zikir Allah Qalbu-qalbu itu menjadi tenang?”

Uniknya Naskah Qur’an, ia menggunakan kata Qalbu, bukan Hati. Walaupun banyak terjemahan-terjemahan Qur’an mengartikan Qalbu itu dengan arti Hati. Tetapi percayalah, terjemahan Qalbu dengan makna Hati, adalah terjemahan yang keliru, bila tak ingin disebut salah. Kita akan meninjau asal kata Qalbu itu secara tinjauan lughawiyyah atau kebahasaan.

Qalbu memiliki banyak makna, di dalam kamus-kamus berbahasa Arab, kata Qalbu itu ada kalanya ia disebut dengan istilah Fuâd (فؤاد), aqal yang ada di dalam tubuh dan adakalanya dengan istilah Lubb (اللبّ), isi dan inti dari sesuatu.

Sebagaimana yang dapat kita perhatikan di dalam Al-Qur’an pada surat :

1. Surat An-Nahl [16] ayat 78 :

وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأَبْصَارَ وَالأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya : “Dan Ia (Allah) telah menjadikan bagimu sama’ (singular), abshâr (plural) dan af-idah (plural), mudah-mudahan kamu bersyukur.”

Sama’ ialah kemampuan untuk mendengar, Abshâr ialah kemampuan untuk memiliki sisi pandang yang banyak, dan Af-idah ialah kemampuan untuk memproses dan mengikat.

2. Surat Al-Hajj [22] ayat 46 :

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لاَ تَعْمَى الأَبْصَارُ وَلَكِن تَعْمَى القُلُوبُ الَتِي فِي الصُّدُورِ

Artinya : “ Maka apakah mereka belum berjalan di muka bumi, sehingga mereka punya Qalbu-qalbu yang mereka berakal dengannya, atau Telinga-telinga yang mereka mendengar dengannya, maka sesungguhnya ia tidak menutupi abshâr, akan tetapi ia menutupi Qalbu-qalbu yang ada di dalam Shudhur.”

Qalbu-qalbu ialah sesuatu yang memiliki kemampuan berbolak-balik, kiri ke kanan serta sebaliknya, atas ke bawah serta sebaliknya, depan ke belakang serta sebaliknya. Shudhur ialah tempat yang menjadi sumber segala-galanya.

Pada ayat Qur’an ini, Surat Al-Hajj [22] ayat 46, dapat kita pahami dengan baik bahwa, Qalbu fungsinya adalah untuk berakal, dan telinga fungsinya untuk mendengar. Maka tidak tepatlah bila kita mengatakan Qalbu itu bermakna Hati, karena hati tidak pernah berfungsi layaknya akal. To be continued…

Patutlah Saya Berbangga

Sudah sepantasnya setiap orang berbangga terhadap apa-apa yang dimilikinya. Contohnya :

  1. Bila Anda punya mobil baru, Isuzu dia, Honda dia, Jazz dia, atau Karimun, mungkin juga Innova, Anda pantas bangga. Karena bisa saja mobil baru itu Anda peroleh dengan cucuran keringat bertahun-tahun, atau malah kredit yang Anda cicil-cicil perbulan, atau bisa saja hadiah undian, atau yang terakhir, yang ini kurang pantas saya sebutkan, yaitu karena hasil curian. Over all, Anda pantas bangga untuk mobil itu.
  2. Atau Anda punya gadget, handphone, android yang up to date, baru keluar dari pabrik dan serinya nomor 1 pula, orang belum punya Anda sudah memilikinya, Anda juga pantas bangga. Bila teman Anda menelepon gadget yang selebar tikar sajadah itu Anda angkat ke telinga. Suara Anda, Anda keraskan sampai dalam jarak 500 meter terdengar, kata Anda : “Ya Hallo, saham kita di Singapur sudah mulai membuahkan hasil, Gan”. Anda pun pantas bangga.
  3. Atau Anda punya pacar, putih kulitnya, harum bau ketiaknya, kalau dia bersuara, sangat manja terdengar oleh Anda, baju dan celananya kekurangan bahan, nampak dada dan paha sudah biasa. Nah Anda punya pacar seperti itu, orang lain tidak. Dalam kepala Anda, hanya Andalah pria beruntung itu yang mendapatkan bidadari dicecerkan malaikat di tengah jalan. Anda pun boleh bangga.
  4. Atau ada calon presiden, kalau tidak gara-gara Anda cucuk fotonya di bilik suara tidak akan menjadi presiden ia. Anda koar-koarkan ke orang sekampung : “Calon presiden nan seorang tu bila tak saya yang berkampanye tak naik dia menjadi presiden.” Anda pun sah berbangga.

Dari contoh-contoh di atas, kebanggaan seakan-akan bermakna : “Saya punya, orang tidak” atau “Kalau tidak gara-gara saya, tak akan menjadi dia”. Terlepas dari makna yang demikian, saya ini sangat ingin berbangga.

Adapun yang saya banggakan hanyalah seorang saja. Tidak mau saya menduakan, tidak saya lebihkan, tidak saya kurangkan, karena begitulah dia seadanya. Dan TIDAK PULA saya bermaksud “Saya punya, orang tidak” melainkan hanya sebagai tolok ukur (kata yang benar memang “tolok ukur” dan bukan “tolak ukur”, ini sudah sesuai EYD, dan sudah saya validkan kebenarannya pada Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Saya berbangga-bangga dengan tujuan supaya kira-kira kita bersama ada pembanding, ada melihat, dan ada menilai. Sedangkan Rasulullah sebagai manusia mulia pun pernah berkata agar kita mencari pembanding. Kata beliau : “Lihatlah kepada orang yang lebih rendah dari padamu, yang demikian itu supaya kamu bersyukur dan sekali-kali agar kamu jangan pernah meremehkan nikmat Tuhan, walau sekecil apapun.”

Mari kita simak, telusuri dan renungi! Semoga beriktibar…

Wanita itu kecil umurnya di bawah saya. Dia baru tamat sarjana. Dapat gelar S.Pd dari kampusnya. Tidak sembarang orang dapat S.Pd itu. Kawan saya yang sering juara 1 saja, sudah patah semangatnya meraih gelar. Katanya biarlah tak bergelar asalkan berbakti kepada Nusa dan Bangsa. Kawan saya itu tak salah. Boleh-boleh saja dia berbangga tak punya gelar, sayang, alangkah baiknya dia bergelar lalu bangga. Ibarat kita “mobil tak punya, lalu bangga pula tak punya mobil karena melihat orang kecelakaan mobil setiap hari,” pemikiran ini adalah pemikiran keliru. Yang terlihat mobil celaka saja, cobalah lihat mobil berjalan di depan Jalan Khatib Sulaiman, di By Pass, di Jalan Padang-Bukittinggi, banyak mobil tak bercelaka, malah banyak mobil bagus, dan pantaslah empunya mobil berbangga.

Kembali ke wanita kecil umurnya di bawah saya dan sudah bergelar. Dia melamar kerja lalu diterima. Nasib baik bagi dia. Karena S.Pd-nya tentulah ia menjadi guru. Diajarnya murid-muridnya dengan senang hati. Tidak hanya ilmu di kepala yang ia transfer, tapi uang di rekening bank-nya ikut tertransfer membeli bahan dan wacana untuk kesejahteraan muridnya. Ia senang, muridnya pun turut senang. Rasa-rasanya tidak ada guru sebaik dia.

Setahun mengajar, ia pindah kelas. Kalau tahun sebelumnya ia mengajar dengan semangat, jiwa dan raga, maka tahun sekarang pun ia sangat bersemangat bersahaja. Murid senang, ia pun senang. Namun Allah tentulah menguji hamba-Nya. Tidak selamanya mulus jalan ke surga, ada juga halang merintang.

Ada kasus di kelasnya, murid-muridnya tak terpantau baik sehingga heboh orang sesekolah karena muridnya terkena tindakan agak asusila (saya tulis kata ‘agak’ memang bukan sepenuhnya, melainkan sedikit saja). Dia sebagai guru tentu merasa salah, tapi yang bukan kalah hebohnya, guru-guru yang lain menyalahkan dia. Pihak sekolah bukan pula mencari solusi tapi malah menyudutkannya.

Rasa-rasa saya sebagai orang yang mulia, atau sebagai orang yang biasa, beban seperti ini adalah tanggung jawab bersama sesama guru di sekolah, bukan kepada seorang guru yang berada di kelas.

Tahulah Anda sekarang, bahwa harimau yang semangat pun bisa surut, sebagai guru bila salah bersama ditumpahkan kepada satu orang, maka ciutlah yang satu orang itu. Sudahlah, karena bakti terhadap Nusa, mengajar tetap dijalankan, tapi tentu tidak sesemangat semembara sesaat di awal dahulu, sudah memudar dia.

Ada dia bersungguh-sungguh dalam bekerja, maka yang terlihat dan dicari-cari orang adalah malasnya. Ada dia bersantun-santun bersama para muridnya, maka yang terlihat dan dicari-cari orang adalah kasarnya. Ada dia menolong, maka yang terlihat dan dikatakan orang dialah perusuh.

Allah Maha Adil, Allah Maha Bijak. Karena ekspektasi padanya sudah berkurang, maka fokuslah ia pada kuliah melanjutkan studi S.Pd-nya. Namun dalam jiwanya, yang mengajar tetap mengajar, yang anak didik tetap diperlakukan sebagaimana layaknya anak didik. Heran saya, padanya masih ada “rasa memberi harapan banyak” padahal orang-orang sudah tak berharap terhadap dirinya lagi.

Maka bila melihat, meninjau dan menelusuri “rasa memberi harapan banyak” yang ia miliki, mengakulah saya bahwa dialah guru sejati yang pernah saya lihat. Saya kan sudah banyak berguru, ada guru nahwu, ada guru hadits, ada guru tafsir, ada guru fisika, ada guru kimia, belum pernah saya bertemu dengan guru yang memiliki rasa memberi harapan banyak, meski secuil insan tak berharap dia ada. Bagi saya, itulah cinta hakiki.

Bila saya memiliki sifat “orang tak berharap pada kita, tapi kita senantiasa terbuka untuk memberi harapan” maka sesungguhnya itulah kekayaan yang paling kaya. Tapi saya tak punya sifat sedemikian. Saya tak sanggup bersifat demikian. Hanya dia yang punya, tidak mau saya menduakan, tidak saya lebihkan, tidak saya kurangkan, karena begitulah dia seadanya. Dialah Srimutia Elpalina, S.Pd, M.Pd kepadanya saya berguru dan patutlah saya berbangga karena dia adalah istri saya. Alhamdu lillah,

Setelah satu edar bumi ini mengelilingi matahari, setahun sudah kita membangun rumah tangga, hanya ini baru yang bisa saya tuliskan, untukmu dinda, Hubbi Fillah (cintaku karena Allah), semoga Allah berkahi dirimu dengan rasa syukur dan sabar yang belum pernah Ia berikan kepada makhluk sebelum ataupun sesudah dirimu. Selamat Hari berkeluarga, sayang…

sekolahalam minangkabau

APA yang terlintas dalam pikiran Anda ketika disebutkan “sekolahalam minangkabau”? Sebuah sekolah? Iya. Tempat belajarnya di alam? Iya. Sarat dengan unsur dan budaya minangkabau? Iya. Nah akan muncul sendiri dalam pemikiran Anda bahwa sekolahalam minangkabau ialah sebuah institusi sekolah dengan fasilitas belajar di alam yang sarat dengan budaya minangkabau.

Pemaknaan sekolahalam minangkabau tidak semata-mata dipisahkan antara sekolahalam dengan minangkabau. Melainkan ia adalah suatu kesatuan yang utuh. Kata sekolah, alam dan minangkabau merupakanperpaduan unik. Bagaikan perpaduan teh, air dan gula. Sekolah adalah sebuah teh, bahan racikan, yang mengalami proses, dibentuk, ditata dan diatur. Alam adalah air, alam adalah sebuah tempat di mana sekolah diletakkan, sumber-sumber ilmu sebuah sekolah berasal dari alam.

Cukupkah kata sekolah digabung dengan alam saja? Cukup! itu artinya Anda meminum teh hanya diseduh air. Dalam Bahasa Minang disebut Teh Pahik, aliasTeh Pahit. Meminumteh tanpa gula adalah minuman yang cukup tapi belum terasa nikmat.

Untuk menimbulkan rasa manis dalam sebuah Teh yang telah diseduh air perlu adanya gula. Nah, gula itulah yang kita kenal dengan sebutan Minangkabau. Lantas keunikan apa yang dimunculkan oleh kata Minangkabau?

Minangkabau itu sendiri berasal dari kalimat “mukminang kanabawi” yang artinya beriman seperti para nabi. Bila ada orang minang tidak beriman kepada Allah, bukan minang namanya. Ia dianggap tidak sah dalam beradat minang. Sesuai dengan tutur Budayawan Minang Mak Katik Musra Dahrizal. “urang minang nan indak batuhankan Allah, indak barasulkan Muhammad, indak dianggap sah dalam adaik,” Orang Minang yang tidak bertuhankan Allah, tidak berasulkan Muhammad, tidak dianggap sah dalam Adat. Oleh sebab itulah ada kalimah Syahadat, atau dalam penuturan Mak Katik Musra Dahrizal kata Syahadat beliau penggal menjadi “Sah Adat”.

Minangkabau itu sangat luas. Ada Lareh, ada Luhak, ada Darek, ada Rantau, ada Adat, ada Istiadat. Bahkan keluasan kata minangkabau itu sendiri diukir dalam kalimah “Jikok dikambang salaweh Alam, Jikok dilipek saleba kuku,” Jika (minangkabau) dibentang maka ia seluas Alam Raya ini, Jika ia (minangkabau) dilipat ia hanya selebar kuku.

Sampai pada hal ini sudah ada wawasan bagi kita bahwa sekolahalam minangkabau adalah sebuah institusi sekolah dengan fasilitas belajar di alam yang sarat dengan budaya minangkabau. Lalu apa saja yang diajarkan oleh sekolahalam yang menyandang nama minangkabau itu? Kita akan terangkan, namun bersabarlah.