ALHAS KR. — https://www.malinmudo.com

KategoriPuisi

2 sepuluh 27

Kata teman-teman, aku ini seorang yang jago puisi. Kalau menulis, kataku menawan dan rupawan. Kalau berucap, kataku sarat makna dan konstitusi. Kalau aku diam, segala sesuatu terlihat sangat menyeramkan. Huwa..huwa..huwa..

Hai kekasih surgaku, apa kabarmu di sana? Di bilik jantung hatiku? Kamu lagi ngapain? Wish you all the best forever.

Sayangku, ini adalah hari ke 1.061 tepat setelah aku ambil alih pemerintahanmu dari Papa. Iya benar, ini adalah hari ke 1.061 setelah kita menikah. Sudah seratus lima puluh satu (151) minggu plus 4 hari kita lewati hidup ini bersama, ya sekitar 290.68% tahun telah beredar. Dalam peredaran ini, mungkin aku tersenyum, tertawa terbahak-bahak, kadang termarah, dan sedikit terngambek (sedikit nyo lah :D, ndak gai banyak-banyak doh) tapi percayalah kamu senantiasa ada di atas telapak tanganku, dalam do’a yang indah yang berangkat ke langit.

Sayangku, Srimutia Elpalinaku, semoga senantiasa menjadi anak yang shalehah dirimu berbakti kepada kedua orang tua, penyeimbang di antara dua atau banyak hal yang berbeda. Semoga menjadi menantu yang shalehah pula untuk mertua, iya, untuk ayah Sjafruddin. Semoga menjadi saudara yang shalehah pula untuk Da Al, Ni If, Ni Eka, Mila dan Dina. Jadi Ciel yang shalehah untuk Azka Azzura Ayesha Kayo, dan ante yang selalu dirindukan bagi Kak Cipa beserta Dedek Apik.

Sayangku, pujaan hatiku [setelah memuja Allah dan apa yang dimuliakan-Nya], sekolahalam minangkabau adalah rumah pertama kita. Suka duka kita lewati bersama. Di sana langkah awal kita terbentuk, sudah tentunya harapanku pula kamu bahagia selalu di sana. Hubbi Darling, penuh cinta. Aku tak punya banyak kata, lagi pula stoknya baru saja kuhabiskan untuk menyusun Lesson Plan sekolah. Maklum aja ya.. 😀

Terakhir, dalam munajatku, do’aku selalu aku ada untukmu, dalam suka duka, jauh dekat, bahagia maupun susah, benar maupun salah, di dunia maupun kelak nanti di surga, sendiri ataupun bersama-sama. Semoga senantiasa dalam perlindungan Allah Ta’ala, Wish you all the best di ke-29 tahun ini.

Suami yang kamu banggakan, Alhas K. Ridhwan Uda Malin Mudo, cie cie..:D

Istriku Berkata

Aku bingung.

Diam dan gelisah.

Di sana, istriku mendatangiku dan bertanya,

“Ada apa, suamiku?”

Kujawab, “Aku merasa diriku tak punya arah. Pernikahan tidak mengubah hidupku. Sama sekali tak mengubahnya.”

Istriku berkata,

“Suamiku, dulu sebelum menikah, kamu bebas menggunakan waktumu.

Bangun pagi semaumu.

Mengajar siswa dan murid pada jam yang kamu suka.

Pulang ke rumah bila kamu lelah.

Bermain di muka laptop acer-mu.

Menulis dan mengedit photo sebagai hobimu.

Hampir semua hal kamu lakukan sekehendak hatimu pada waktu yang kamu mau.

Nah, sekarang, setelah menikah, kamu pun tetap bebas,

dan akan selalu bebas melakukan itu,”

 “Suamiku, dulu sebelum menikah, kamu membeli buku.

Ke Gramedia, ke Sari Anggrek, ke Pustaka bahkan ke Bukittinggi.

Menghabiskan waktu luangmu dengan membaca.

Mencoret buku, menulisinya, menstabiloinya, menulis catatan kecil, mencatat ide-ide yang muncul, memajang tulisan di dinding, membuat rencana, memperbaharui agenda, dan tiba-tiba tertidur di atas buku-bukumu.

Semua berserakan. Pensil, Penghapus, Rol dan stabilo itu. Di matamu, sedap dipandang. Di mataku, sama sekali bukan. Lalu akulah yang merapikan semuanya.

Nah, sekarang, setelah menikah, kamu pun tetap bebas,

dan akan selalu bebas melakukan itu,”

 “Suamiku, dulu sebelum menikah, kamu bangga dengan passport-mu.

Katamu, supaya bisa jalan-jalan, karena memang itu hobimu.

Kamu bilang, banyak dalil dari Qur’an yang menyuruh bertebaran di muka bumi.

Kamu mendapatkan tiket murah.

Kamu pergi ke Kuala Lumpur, melihat dua menara jagung, menyaksikan air-air menari di bawahnya.

Ke Johor Bahru, ke Penang yang penuh mural-mural istimewa, ke Singapura, Philiphina, Macau negara judi itu, bahkan ke Hongkong yang menjadi bual-bualan.

Pesawat dari Hooongkong!!! Karcis dari Hooongkong!!! Uang dari Hooongkong!!!

Nah, sekarang, setelah menikah, kamu pun tetap bebas,

dan akan selalu bebas melakukan itu,”

 “Suamiku, dulu sebelum menikah, kamera Nikon D5100 adalah pacarmu.

10 jam dari 24 jam sehari bisa habis bersamanya.

Kamu bilang mau lihat pacu jawi, memotret bangau, memoto anak-anak, mencari moment-moment sunset, bahkan garpu-garpu milik mama pun kamu foto.

Kamu benar-benar gila dengan kamera kesayanganmu.

Nah, sekarang, setelah menikah, kamu pun tetap bebas,

dan akan selalu bebas melakukan itu,”

“Suamiku, tidak akan ada hal yang membuatmu gelisah, ada aku bersamamu di sini, di sisimu.”

 “Suamiku, orang pasti akan berkata dan akan selalu berkata, ‘apa bedanya dirimu setelah menikah dengan sebelum menikah?’

Mereka mengira kamu sama saja dengan masa lalumu.

Tidak berubah.

Mereka mengira bahwa pernikahan bisa mengubah hidup seseorang.

Kenyataannya tidak. Pernikahan tidak bisa mengubah hidup, diriku, dirimu dan mereka.

Pernikahan bukan mengubah hidup, sama sekali bukan.

Jika ada anak manusia yang lahir dan dewasa di bumi ini berharap untuk memperoleh perubahan hidup setelah menikah, maka sia-sialah pernikahannya.

Ia itu telah keliru menempuh jalan.”

Setelah menarik nafasnya yang dalam, Istriku berkata,

“Suamiku, pernikahan kita memang tidak mengubah hidup kita. Ia tidak akan. Tapi aku bahagia, pernikahan kita telah menganugerahkan focal point yang lebih banyak. Pernikahan kita memberi point of view yang lebih luas. Pernikahan kita memperluas cara kita memandang bagaikan Nikon 10-24mm f/3.5-4.5G ED AF-S DX Nikkor Wide-Angle Zoom Lens.”

Istriku bilang,

“Suamiku, kamu punya waktu?”

Aku menjawab,

“Memangnya ada apa?”

Istriku bilang,

“Suamiku, mari kita jalan-jalan dengan kamera.”

Aku bertanya,

“Lho, ceritamu yang panjang itu apa maksudnya?”

“Pernikahan adalah sebuah kamera, suamiku…”

Aku tersenyum, kuikuti istriku, kamipun berlalu.

Itu yang membuatku setiap hari selalu jatuh cinta padanya,

Semakin jatuh cinta.

Suatu Saat

Mari kita lihat, suatu saat Anda duduk.

Di depan monitor 17 inci.

Membuka Adobe Photoshop 6, lalu mengedit foto.

Foto pacu jawi.

Ketika sedang asyik mengedit foto pacu jawi, tiba-tiba…

Jawi dalam foto itu hidup.

Ia melompat keluar monitor.

Anda kena cipratan lunau jawi.

Muka Anda bacilemok, bakalupun.

Kemudian Anda pergi ke kamar mandi membasuh muka.

Lalu Anda balik lagi mengedit foto.

Tapi di layar monitor sudah tidak ada jawi lagi…

Sudah tidak ada pacu lagi…

Sebab semua isi fotonya sudah keluar dari monitor dan berhamburan.

Apakah kata-kata yang pertama kali keluar dari mulut Anda???

Apa kata-kata pertama yang terucap???

Kalau saya “Ai yayai, pantuang… ka di den tuw.. “

Kita Terbuka

Kita terbuka untuk sebuah kritik.

Jangan untuk sebuah, untuk banyak kritik kita terima, bahkan sampai kita mati.

Sampai kita lenyap bahkan kita mampus gara-gara kritikan itu.

Kita terbuka untuk sebuah kritik.

Kritik yang menyatakan kinerja kita sudah bobrok, kerjasama kita tidak baik.

Sampai kita hadir sama dengan ketidakhadiran kita.

Kita terbuka untuk sebuah kritik.

Untuk masalah anak-anak yang semrawut dan moral yang kocar-kacir.

Sampai anak-anak hanya menurut bila diperintah, tanpa perintah tak ada turutan.

Kita terbuka untuk sebuah kritik.

Bahwa pembenahan kita kadang-kadang salah, tak pantas kita kerjakan kita kerjakan.

Kerja kita lupa kita kerjakan, kerja rekan kita kita salah-salahkan.

Kita terbuka untuk sebuah kritik.

Duduk di depan murid, suara kita tinggi, karena kita pikir mereka meribut

Berdiri di depan lapangan, kita lihat salah mereka berdiri, kita tegur

Kita terbuka untuk sebuah kritik.

Orang tua bilang anak mereka begini, kok sekarang gak lagi???

Orang tua bilang kenapa gak begini lagi???

Kita terbuka untuk sebuah kritik.

Kita loyo, energi kita zero, tapi masih juga hidup kayak lampu menyala di disco.

Kita sudah bukan kita. Kita sesama kita adalah pesaing bagi kita yang lain.

Ini adalah refleksi, renungan, kritik, dan motivasi.

Akankah kita berbenah diri atau tidak.

Pulang kepada kita. Kita yang bodoh sekaligus pintar ini.

Semua pulang kepada kita, tapi kita menolak.

Kita terbuka untuk sebuah kritik, kecuali Fasilitator.

untuk ‘sekolahalam minangkabauku’ tercinta, untuk rekan kerjaku yang bijaksana, untuk dunia anak-anak dan untuk surga-surgaku, aku Alhas K. Ridhwan, Fasilitator (kuulangi, Fasilitator) aku menulis.

Banyak Persamaan Kita

Benar kita sama MENYUKAI,

Kamu menyukai perencanaan

Aku menyukai pendadakan

Benar kita sama BERJALAN,

Kamu berjalan dengan impian

Aku berjalan dengan mimpian

Benar kita sama BERBAGI,

Kamu berbagi kepentingan

Aku berbagi keinginan

Benar kita sama MENGERTI,

Kamu mengerti sebuah kesalahan

Aku mengerti sebuah kebetulan

Benar kita sama MEMPERBAIKI,

Kamu memperbaiki sampai ke akar-akar

Aku memperbaiki sampai ke ujung-ujung

Benar kita sama SALAH,

Kamu salah karena lupa

Aku salah karena sengaja

Benar kita sama BERTIKAI,

Kamu bertikai bahwa kamu benar

Aku bertikai bahwa aku tak salah

Benar kita sama JATUH CINTA,

Kamu jatuh cinta karena masa depan

Aku jatuh cinta karena kenangan

Kita banyak PERSAMAAN,

sebab itu kita bersatu

bukan untuk menggabungkan persamaan itu

semisal menggabungkan sapu dan tangan

tapi meleburkan PERSAMAAN itu, lalu menciptakan PERSAMAAN baru

sehingga menjadi sapu tangan

tidak ada lagi sapu…

tidak ada lagi tangan…

yang ada hanya…

SAPU TANGAN

Puisi Cinta untuk Tercinta

(S)ejak kebisuan tidak lagi berlabuh di atas bibirku

(R)indu pun mulai bersarang

(I)tulah masa-masa kehadiran, Mutia

(M)asa segenap kekuatan mulai tumbuh menjulang

(U)ntuk kuraih semua asa dan impian

(T)uk gapai cita-cita sanubari hati

(I)tulah masamu, masa engkau hadir di hatiku

(A)ku bersyukur….

(E)quator adalah garis tengah Bumi.

(L)intangnya tak tahu aku lintang berapa

(P)adahal aku yakin pada titik nol

(A)ku yakin kamu berada di equator itu sekarang

(L)elah menungguku,

(I)nsan nan tak jemu menggalaukanmu

(N)amun percayalah,

(A)ku padamu cinta, tanpamu tiadalah berarti

Untukmu yang tercinta, puisi cinta ini kutulis.

BIDADARI PEMBUKA PINTU SEMUA PINTU

2-8-13

10

Bidadari Embun Pagi

Setiap lirikan matanya adalah tetesan air hujan yang membasahi bumi,

tiada henti…

Hujan di pagi nan indah…

Tak kusangka bila ia menatapku, hatiku ibarat daun hijau bermandikan tetes-tetes embun

Basah, berseri, dan sangat alami…

Aku berdiri, dan masih saja ia menatap padaku.

Mungkin ada yang salah dengan diriku,

atau pakaianku…,

atau rambutku…,

atau jangan-jangan penampilanku.Aku mencoba menjauh, ia masih juga menatapku, lalu tersenyum.

Senyum di pagi nan indah…

Tuhan, Engkau biarkan bidadari-bidadari kecil itu memandangiku…

Ada apa gerangan, Tuhan?

“Mereka bidadarimu, jiwa yang mengalir di setiap tubuhmu,”

Kudengar kata-kata itu, lalu aku terdiam.

Sekarang, bila ia melirik lagi, kupastikan aku tersenyum membalasnya.

Dan dengan manja, kukedipkan mataku.

Untukmu, Bidadari Embun Pagi, kutuliskan puisi ini.

Bidadari Pertama dari 300

Keindahan bukanlah apa-apa bila kamu menatap wajahnya

Termasuk sebilah kemerduan, sama sekali tak berarti saat engkau mendengar suaranya

Aku teringat sebatang bambu, yang sering dijadikan buluh perindu oleh setiap pujangga

Ya, seruling bambu…

“Bambu, Rindu, dan Rumput yang menari” 

Tiga kata itu mewakili semua tentang dirinya

Wajah dan ronanya, senyum dan tawanya, suara dan tutur nadanya

Aku bingung… mana di antara semua itu yang menjadi daya tariknya

Aku hampir-hampir meragukan kepercayaanku

Tak mungkin ini Firdaus yang telah dijanjikan Tuhan untukku

Tak mungkin, tapi ini benar

Senyumnya berbisik pelan di telingaku “Ustadz…, antum bersama kami ya Ustadz…?”

Dia menarik lenganku, dan aku semakin bingung

Tuhan, semoga ini mimpi…

Supaya aku tidak berlarut-larut dalam keindahan ini…

Tuhan, semoga ini mimpi…

yang kau putarkan videonya dalam tidurku…

mudah-mudahan aku terbangun,

“Ustadz…, kita bermain lagi ya…?”

Dalam hati aku berbisik, “Segera…”

Masih belum yakin aku, segera bangun atau segera bermain bersamanya.

Untukmu, bidadari kecilku, kutuliskan puisi ini…

Kamu Cahaya Cintaku

Jika aku terbang di langitmu, maka aku tidak akan turun

Jika aku lapar di rumahmu, maka aku tidak akan makan

Jika aku haus di apdang pasirmu, maka aku tidak akan minum

Jika aku miskmin dalam matamu, maka aku tidak akan minta-minta

Jika aku bodoh menurutmu, maka aku tak akan malas-malas

Jika aku jelek dalam penglihatanmu, maka aku tidak akan pamer muka di hadapanmu

Jika aku jahat menurut perasaanmu, maka aku tidak akan menyakitimu

Jika aku tiada, maka kamu bisa cari yang lain.

Jika engkau tiada, maka seorang pun tak bisa menggantikanmu

 Kamu cahaya dalam gelapku

Kamu selimut saat dinginku

Kamu penghibur saat sedihku

Kamu pendamping dalam hidupku.

Kapal Cinta

Cintaku bagaikan kapal

Yang berlayar mengarungi samudera kehidupan.

Dihalangi ombak-ombak laut yang tinggi.

Dirintangi angin-angin yang bertiup kencang

Oh, Kapal cintaku.

Teruslah arungi samudera

Sampaikan pesanku pada kekasih nan jauh. Di seberang

“Aku rindu”

Sampaikan pesanku.

“Tunggulah aku di sana”

Di pelabuhan kasih sayang.