ALHAS KR. — https://www.malinmudo.com

KategoriSerba-Serbi

Peribahasa Setelah Pemilu

Koleksi Peribahasa setelah Pemilu (jangan salah paham, KPU di sini artinya Komisi Pemintaran Umat) :

  1. Dimana KPU dipijak, di sana keliru dijunjung.
    Artinya : bila ada orang coba menyalah-nyalahkan KPU, biasanya ia menjunjung kekeliruan.
  2. Ada KPU, Ada Keliru.
    Artinya : Komisi Pemintaran Umat bisa saja salah, karena ia manusia.
  3. KPU di pelupuk mata tak tampak, keliru di seberang lautan kelihatan.
    Artinya : Orang hanya bisa menyalahkan KPU saja, padahal KPU telah bekerja sungguh-sungguh untuk umat.
  4. Besar KPU daripada salah entri.
    Artinya : Komisi Pemintaran Umat lebih bersahaja dari pada kesalahan dalam mengentri data.
  5. Sekali langsung ke KPU, seumur hidup orang tak percaya.
    Artinya : Ada juga orang-orang yang tak percaya dengan kujujuran KPU.
  6. KPU beriak, tanda tak dalam.
    Artinya : Komisi Pemintaran Umat kalau sedang ribut, berarti air sedang tidak ada. Suasana sedang tidak berair dan tidak basah.
  7. Bagaikan menangkap ikan di kolam KPU.
    Artinya : Jangan pernah menangkap ikan di kolam KPU tanpa izin.
  8. Ada uang KPU disayang, tak ada uang KPU melayang.
    Artinya : Datang ke KPU kalau ada maunya saja.
  9. Airnya KPU, ikannya Keliru.
    Artinya : Ikan-ikan berenang di kolam yang salah.
  10. Bagaikan KPU di daun talas.
    Artinya : Talas tidak kuat menahan beban KPU.
  11. Bagaikan KPU dalam selimut.
    Artinya : KPU Butuh istirahat.
  12. Duduk sama KPU, berdiri tak sama tinggi.
    Artinya : Jangan duduk-duduk di tempat KPU.
  13. Datang tidak di KPU, pulang tak diantar.
    Artinya : Jelangkung tidak bisa berada di sekitaran Komisi Pemintaran Umat, sebab semua anggotanya rajin mengaji.

Ditulis oleh Alhas K. Ridhwan Malin Mudo.

Berhenti Jadi KPU

Maka pada hari ini, setelah pemilu ini berbondong-bondonglah anggota KPU garis lurus menuju kadai dan lapau. Duduklah mereka di sana menceritakan nasib yang telah ditakdirkan Allah baginya.

KPU : “Manyasa Den jadi anggota KPU…😑” ia membuka suara.
KAWAN SUBALAH : “Ba a to, kawan?” Celetuk teman di sebelahnya.
KPU : “Aden karajo siang jo malam, ma ampeh-ampehan tulang, tapi aden kanai pitanah, kecek urang Aden indak pandai baretong…🤨”
KAWAN SUBALAH : “Kapuyuak dek kawan, siang malam kawan karajo cek kawan. Satahu den kawan karajo sakali 5 tahun no lah. Pas pemilu se…😜 Tu ba a lai, Kawan?”

KPU : “Manyasa Den jadi anggota KPU, jariah Den indak diharagoi dek Rakyat Indonesia ko…😑”
KAWAN SUBALAH : “Rancak kawan baranti se karajo lai..”
KPU : “Iyo, aden kabaranti jadi anggota KPU ko. Iyo indak tahan Den disasali urang tiok suduk. Amuah abih Den gara-gara sosmed ko…”
KAWAN SUBALAH : “Rancak mah kawan. Tapi kawan agak-i pulo. Nan etong baretong ko alun salasai lai kawan, tabangkalai karajo beko kawan.” pungkas kawan sebelahnya.

KPU : “Jadih melah, bia den salasai an, tapi suruah baranti urang maeboh di sosmed tu dulu dih…” Ucap anggota KPU Garis Lurus.
KAWAN SUBALAH : “Bato kawan, kapilah menggonggong, anjiang 🐕…berlalu..”
KPU : “Jadi kawan kecek an den anjiang..” 😣
KAWAN SUBALAH : “Mungkin….” tertegun kawan subalah sebentar. “Mungkin kawan salah danga… “

Percakapan berakhir.
www.malinmudo.com

Siapa yang Ulang Tahun?

Dua sejoli itu duduk di pinggir pantai, tapi bukan memandangi laut

Mereka bertengkar, satu minta putus, satunya lagi masih betah

Terjadilah lobby di antara mereka berdua.

“Yang aku mau putus ama kamu, yang?” Kata sejoli wanita.

“Lho? Ada apa yang?”

“Aku bosan ama kamu, kamu gak pernah ngertiin aku, sms gak pernah, nelpon juga gak.”

“Ma’afkan aku yang, akhir-akhir ini emang aku agak sibuk,” Kata Sejoli Pria.

“Kamu udah gak kayak dulu lagi, kamu udah gak punya waktu ama aku. Aku minta putus aja.”

Sejoli pria diam, berpikir, sejenak, lalu berkata :

“Baiklah bila itu keputusanmu, yang. Tapi aku minta syarat, yang,”

“Sebutkan saja!”

“Aku minta kamu kembalikan semua cinta yang udah aku berikan ke kamu,”

Sejoli wanita bingung. “Cinta apa?”

“Aku nungguin kamu pulang kerja dulu itu adalah CINTA. Aku menemani kamu jalan-jalan di mall itu CINTA. Kamu bingung dengan tugas-tugas kerja, aku bantuin juga CINTA. Kamu nelpon aku pas kerja lalu ngajak kabur, itu juga CINTA. Kamu minta jangan ganggu aku, kuturuti juga CINTA. Aku minta kembalikan sebelum kamu putusin aku.

“Yang, kamu gak demam kan?” Kata sejoli Wanita.

“Aku sehat wal ‘afiyat yang.”

“Baiklah, ini aku kembalikan semua CINTA-mu itu!” sejoli wanita mengeluarkan sebuah bungkusan.

Sejoli pria bingung, “Apa ini, yang?”

“Kado ulang tahun untukmu,”

“Lho, aku kan gak ulang tahun,” Sejoli pria beralasan.

“Bukan KAMU yang ulang tahun sebenarnya..,”

“Lalu siapa yang?” Tanya sejoli Pria.

“Cinta kita, yang. Hari ini. Tanggal ini. 15 Juli 2013. yang ke-3, yang.”

“…”

Bisa Gila Aku

Dia? Oh tidak! sekali lagi tentang dia? Kenapa ini, yaa Rabb?
Pagi ini aku datang ke kadai mak etekku, Chaniago Perabot di depan Perumahan Singgalang Tabiang Di sana kudapati udaku Aldi Abdullah Chan sedang asyik membaca. Kataku dalam hati : “Tumben dayal mambaco pagi-pagi”.
Aku coba mendekat ke arahnya dan ternyata ia sedang membaca novelku, oh tidak… Bumi Cinta kang abik.
Biarlah, kucuekin saja. Aku melangkah ke meja komputer dan kulihat layarnya masih bergerak-gerak dengan Screen Saver sia yang kayo pasti banyak pitih Apa maksud screen savernya?
Kupikir-pikir lagi. Ah sepertinya pagi ini aku tak berminat untuk berpikir. kugoyang mouse-nya kemudian kubuka microsoft word. Kuketik satu huruf Y. ya… itu saja, lalu kusimpan.
Dayal melihatku,
“Manga huruf Y sen nan ang ketik, awan?” tanya dayal padaku.
“Den taragak jo kawan den nan pakai huruf Y, dayal”
Dayal tersenyum ke arahku. Dia tahu betul siapa Y-ku.
“Taragak buliah-buliah sen, tapi jan dipaso-pasoan” ucap dayal.
“Maksud dayal a ko?” tanyaku penasaran.
“Ibo den mancaliak ang, mamikia an si Y taruih sen”
“Indak mamikian si Ye do dayal, mamikia an urang nan bainisial Y” Bantahku.
“Alah samo sen tu no. Kecek ang indak tahu den. Di buku ang ko ado namono” ujar dayal.
“Itu si Y nan lain lo tu” aku mencari-cari alasan
“Banyak bana si Ye ang mah, beko paniang lo ang, payah lo maurus no”

Sejenak aku merenung kata-kata dayal tentang si Y-ku. Betul, aku memang sering berpikir tentang si Y. Setiap kali masuk facebook langsung kubuka profile si Y. Aku lihat statusnya, gambarnya, infonya dan berulang-ulang, padahal aku tahu betul yang kulihat pasti itu ke itu juga.

Tapi perasaan apa ini yang membebaniku. Perasaan yang menggantungku di antara langit dan bumi. Oh tidak yaa Rabb. Kenapa Engkau goreskan nama si Y di hatiku? Dia membuatku resah dan gelisah. Habislah aku kurus tinggal tulang.

“A nan diang pikia an lai awan?” tanya dayal menyentak lamunku.
“Ndak do doh, dayal. Aden taragak pulang. Taragak jo angah jo ayah. Pengen den cium tangan angah jo ayah lamo-lamo. Alah banyak doso den raso no” ucapku dengan logat Kamangku.
“Baru sadar ang kini go mah” ujar dayal. Dia tersenyum.
“Iyo dayal. Insaf den raso no, alah jauah bana aden manyimpang dari anak angah nan sabananyo”
“Jan banyak na bapikia, nan ka dipanyak do’a, awan… DO’A” ucap dayal menasehatiku.
Betul, aku tahu, aku telah salah, selama ini aku hanya memperbanyak PIKIR dan aku telah lupa dengan DO’A, padahal sejak duduk di pesantren dahulu aku sudah diajarkan “DO’A ITU ADALAH RUH-NYA IBADAH”

Aku teringat masa laluku. Semua huruf-huruf Y-ku. Sejak aku kecil. Aku ingat (Y)ang mengajariku mengaji, aku ingat (Y)ang mengajakku bermain galah di waktu SD, aku ingat (Y)ang pernah aku ganggu di SD dulu, di MDA, aku ingat kalau di SD saja aku pernah menulis surat cinta untuk seseorang (Y)ang aku kagumi, mundur lagi aku mengingat masa-masa TK-ku. Masa paling indah dimana tempat TK-ku sudah dihancurkan. (Y)aa Rabb, semuanya akan kembali pada-Mu jua. Ah, untuk apa aku gila memikirkan semua Y-Y itu.

Untuk semua mereka yang berhuruf Y, kutuliskan catatan ini.

Untung Tak Berkeping-keping

Sudah lama aku tak bertemu dengannya, kucoba pakai batikku. Kamu tahu batik? Oh tidak baju yang bercorak-corak seperti bulu merak itu. Wah dengan bangga, kupakai, kukasih parfum, Gatsby mereknya. Celanaku, celana paling hitam dari yang kelabu. Ah maksudku, hitam luntur. Necis dech pokoknya penampilanku. Apalagi ya, oh ya Jam tangan!

Ketika bercermin aku tersenyum. Oh betapa tampannya aku. Haha! si cermin bicara padaku.
“Ka pai kama, sanak ambo ko?”
“Sanak??” ucapku. “Siapa yang berdunsanak sama kamu, min?? Aku tampan, sedangkan kamu cuma cermin.” Aku sinis sekali mendengar si cermin ngomong. Biasanya ia tak begitu. Tumben kali ini ia mengajakku bicara. Tumben ia perhatian padaku.
“Jan lah mode tu bana, Alhas. Ambo ko camin-camin mode ko, banyak juo gunonyo.” ucap si cermin padaku.
“Sori min, ha. Ambo lah bajanji pai ngedate jam 9.30 pagi ko. Beko talambek ambo, rusak tali percintaan ambo.”
“Jadihlah, has. Elok-elok di jalan yo. Tapi jo sia alhas ka pai ngedate ko?” tanya si cermin.
“Adda ajja” jawabku kalem.
“Mambana ambo ha!”
” Jo erisa” jawabku datar. Cermin kutinggalkan begitu saja. Habis manis cermin, sepah cermin kubuang.

Dari Istanaku, ah maksudku Masjid, aku berpenampilan kayak selebritis, padahal kalau udah di dalam masjid aku seperti Ustadz.
Kusetop ojek.
“Ka kama, diak?” tanya bapak-bapak ojek padaku.
“Pengen tahu se apak urusan anak mudo mah?” ujarku.
“Ambo tuo-tuo mode ko, dulu ambo mudo juo mah” si bapak-bapak ojek menstarter Bebeknya. kami pun melaju.
“Apak yo pernah mudo tapi beda wak pak. Apak mudo tahun 1980-an, ambo tahun 2010, katiko di zaman apak naiak kureta angin raso lah naiak sedan. Zaman kini indak mode tu lai, pak. Kini ngedate di Gramedia.” ucapku sekenanya.
“Oh ado lo trend ngedate terbaru kini yo, diak?”
“O, pasti lah pak. Trend itu ka barubah-rubah satiok hari. Duo nan tak paralu diubah, pak” ucapku menggantung.
“Apo tu diak?” tanya si bapak-bapak ojek penasaran.
“Nan partamu Iman, pak!” belum selesai, aku dibantah langsung.
“Lai indak salah tu, diak? nan indak buliah barubah tu cuma Tuhan”
“Apak ko bantuak indak tahu awak se, keseleo lidah santa ko, pak.. Iyo tu mah, nan indak buliah diubah-ubah tu Tuhan awak. Sip tu, pak.” ucapku.
“Nan kaduo apo tu diak?” si bapak ojek menyesak-menyesak.
“Saba, pak! ambo agiah tahu, tapi beko siap ambo pulang dari ngedate, yo pak!” Ojek sampai di depan gerbang asrama haji. Aku turun. Kuberi uang lima ribuan. Kubilang sama bapak tukang ojek.
“simpan se baliak pitih no, pak. Mudah-mudahan, pitih tu panjapuik rasaki dek apak”
“Onde mokasih banyak diak. Tapi ambo indak sanang manarimo banyak bana.” si bapak merogoh sakunya. Ah sepertinya ia tidak menerima sedekahku, dan uangku bakal dikembalikan.
Lama ia mengotak-atik sakunya. akhirnya dompet juga yang keluar. Setelah bolak-balik dompet, ia keluarkan selembar kertas.
“Simpan ko diak, iko pamanis katiko ngedate ko diak” ucap si bapak ojek memberikan kertasnya padaku.
Kuterima saja. Lalu kumasukkan ke dalam saku baju.
“Ah cuma kertas” gumamku.

* * *

Di seberang jalan aku melintas. Naik angkot jurusan Tabiang-Pasar Raya. dengan bangga, aku naik angkot. Musiknya “sejujurnya kutak bisa, hidup tanpa ada kamu, aku gila” Wah! keren musiknya, tapi aku tak tahu siapa penyanyinya. Ah cuek is the best. yang penting Ngedate.

Position : Asrama (lai ndak Asmara do) Haji
Destination : Gramedia Padang

25 menit lebih kurang, angkot sampai, setelah diberondong macet di depan SMA 2 Padang. Aku turun. Kubayar 3 ribu.
“balabiah, da?” jawab si sopir. dari wajahnya umurnya baru 20-an tahun.
“singajo mah diak, ati sanang. ambiak se lah” ucapku. Baru hari itu aku mendapati sopir angkot jujur. mungkin karena ia masih muda. Ah ini bukan berarti kesimpulannya : SOPIR ANGKOT YANG TUA-TUA TIDAK JUJUR.

Kulirik jam tangan. Jam 9.37
“Alhamdu lillah, telat sedikit” ucapku. Bergegas aku ke lantai dua. Aku tahu doiku menungguku di lantai 2.

Kuambil hape, kukirim pesan.

SEBENTAR LAGI SAMPAI, RI. AKU SUDAH DI BAWAH

Lantai dua kulirik kiri dan kanan. Tidak ada erisa di sana. Pengunjung pun sepi sebab baru buka Gramedianya.

Wah mutar-mutar dulu. Hapeku berbunyi. Pesan masuk

HAS, TUNGGU YA, RI MASIH DI JALAN

Tak apa-apalah. Ngedet pertama agak ngaret dikit. Kupergi ke rak-rak religi. Rak yang pertama sekali aku periksa setiap kali aku naik ke lantai 2 Gramedia. Maklumlah, aku kan ustadz. Ustadz raknya buku-buku agama dong, pasti!

Ah kuberkomentar “Kenapa ya bahasan Islam masih itu ke itu juga dari dulu-dulu. Tidak berubah-ubah. Kapan Islam mau maju?”
Tak dinyana, buku di Rak itu ngomong : “Apa ustadz ni, memangnya kemajuan sesuatu dinilai dari berubahnya. Kalau berubah dia jadi maju, gitu??” ujar si buku sinis. Ia merasa terlecehkan oleh bisikan hatiku.

“Tidak seperti itu maksudku, ku! Berubah ke arah lebih baik itu baru dikatakan maju”
“Alah, ustadz ni kampanye ya. Itu kan mottonya IRWAN-MK si calon gubernur” ucar si buku.
“Oh iya, ya..” jawabku pendek.

Aku beralih ke rak lain. mencari buku-buku yang layak untuk kubaca. Tapi sudah hampir setengah jam aku menunggu erisa tidak mengirim pesan apa-apa. Wah ada apa ini?

kukirim pesan.

RI, AKU DI LANTAI 3 YA, LIHAT NOVEL-NOVEL. KUTUNGGU DI ATAS SAJA

naik ke lantai 3, aku baca novel-novel terbaru. ada Bumi Cinta, ada Padang Bulan, ada Istri ke-19, ada Dan Brown dengan The Last Symbol. Semuanya kuacak-acak.

Setengah jam juga sudah kulewatkan, tapi erisa belum juga muncul. Wah kenapa ni?

Kuambil hapeku dan kucoba menelponnya. Terdengar tuts-tuts di seberang sana.

ERISA : HALLO, ASSALAMU’ALAIKUM.
AKU : YA, WA’ALAIKUM SALAM. SEDANG DIMANA, RI?
ERISA : MA’AF, HAS. SEPERTINYA AKU TIDAK BISA DATANG
AKU : KENAPA, RI?
ERISA : MENDADAK TEMAN SEKOSKU MINTA TOLONG
AKU : YA GAK PA-PA. NICE WORKING YA RI, LAIN WAKTU KITA MASIH BISA JALAN-JALAN

aku melempem setelah itu. seri wajahku hilang. Erisa ternyata sibuk. Tapi aneh, kalau ia memang bantuin teman satu kosnya kenapa ia bilang di SMS-nya : MASIH DI JALAN

Aku melangkah keluar Gramedia lemas. Dan tahukah teman, SUBHANALLAH
Di depanku. Tepat di depanku. Ya Allah, erisa turun dari angkot Pasar Raya-Tabing dengan seorang laki-laki.
Gawat, gawat, aku harus menghindar. Aku masuk lagi ke dalam Gramedia, aku belok ke tempat penitipan tas. Terus membelakang pura-pura lihat pensil dan pena.

Erisa dengan cowoknya (ah aku tak mau mengakui kalau laki-laki yang turun bersamanya di angkot adalah cowok erisa) melintas di belakangku. Aku mematung. Pura-pura tidak tahu. Setelah mereka lewat, dan sepertinya mereka berdua naik ke lantai 2. Aku segera ke luar gramedia.
Subhanallah, aku kecewa, beraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaattt sekali.
Subhanallah, hanya itu yang keluar dari mulutku.

Aku tak tahu harus bagaimana. Kupikir erisa adalah gadis terakhir yang akan membahagiakan hatiku, tapi TIDAK.

Ya Allah, kenapa Engkau menghukum aku ini??
Dengan hati malas, kusetop angkot jurusan asrama haji. jam menunjukkan pukul 10. 25

sampai di gerbang asrama haji, ojek-ojek yang ada tak kuhiraukan. aku pengen jalan kaki. Ya Allah, berat sekali siksaanmu padaku. aku berdo’a sambil berucap A’UDZU BILLAHI MINAS SYAITHANIR RAJIM

Hapeku berbunyi. Pesan masuk.

HAS, AKU MELIHATMU TADI.

Sms dari Erisa. aku sudah kecewa. melihat apa ia? melihatku di gramedia sambil membelakanginya? Dia mengecewakanku. Erisa??? ah aku benci namanya. Aku tak habis pikir, gadis secantik dan seanggun dia benar-benar mengkhianatiku.

Hapeku berdering. Panggilan masuk. dari Erisa. Aku enggan mengangkat, tapi kupaksakan.
AKU : YA HALLO, ASSALAMU’ALAIKUM
ERISA : WA’ALAIKUM SALAM. HAS, MA’AFKAN AKU. MENDADAK TADI DI ANGKOT AKU BERBARENGAN DENGAN TEMAN LAMAKU. JADI AKU TERPAKSA SEIRING DENGANNYA. KEBETULAN IA JUGA MAU KE GRAMED. AKU KUATIR KAMU AKAN MENILAIKU MIRING BILA TAHU AKU DATANG KE GRAMED DENGAN SEORANG LAKI-LAKI. SEBAB ITU KUCARI ALASAN AGAR KAMU CEPAT PULANG. MA’AFKAN AKU HAS. AKU MEMBOHONGIMU.
AKU : (tetap diam tak bersuara mendengar penjelasan erisa)
ERISA : JAWABLAH AKU, HAS…
AKU : AKU MENGERTI, RI. AKU PENGEN ISTIRAHAT DULU. NANTI HUBUNGI AKU LAGI

Panggilan aku matikan. belum jelas duduk perkaranya.

(nantikan lanjutannya di episode Untung Tak Berkeping-keping Jilid 2)

xyz!

x dulunya kaya, sukses, bahagia, namun hidup x berubah setelah bertemu y. Selidik pny selidik y ternyata lbh kaya, maka x coba mndekati y, stlh itu mrka pacaran. Sthun brjalan y insaf, hbgn mrka tk pntas dlnjutkn. Y mnggalkan x. X frustasi, ia cb menghibur dr dg z, x pun sembuh dr frustasinya. 2 thn kmudian y dtg, mnt bntuan x. Oh sakit, slit bg x mlupakn apa yg tlh dprbuat y trhdp x. Ia tolak mnth2 si y. Y yg mlang mrasa hdupny tk brarti.. Nmun keajaiban trjadi. Di saat kalutnya y ditawari krja oleh !, syg pkrjaan itu hina betul di hadpn Tuhan. Y tk pduli, ia sdh buntu.