ALHAS KR. — https://www.malinmudo.com

Kalau Kamu Kena Knalpot

Kalau Kamu Kena Knalpot

Pagi ini ada sepeda parkir di depan pintu gerbang sekolahalam minangkabau. Sepedanya kecil. Sangat kecil. Standarnya sudah patah. Roda bantunya copot. Remnya blong. Kring-kringnya macet, kalau dipencet ia akan berbunyi krusuk-krusuk. Warnanya meluntur. Apa penyebab semua ini? Apakah waktu sudah mengikis usia sepeda kecil itu? Pengen tahu bagaimana perjuangan sepeda itu mempertahankan hidupnya? Hmm…, begini kisahnya.

Enam bulan yang lalu, sepeda itu punya roda bantu di kiri kanannya. Selain itu, karena ia baru keluar dari pabrik otomatis bodinya yahud, seksi dan menggiurkan. Semua orang pasti ingin mengendarainya. Tapi mohon ma’af hanya untuk 5 tahun ke bawah. (gila bener, biasanya sering nulis 17+, nah sekarang malah 5- hehe…)

Pemiliknya bernama Luki. Hanya Luki (adik kecilnya Gita) yang memakainya. Tapi sejak kediamannya berpindah dari rumah ke sekolahalam, sepeda kecil itu seperti kancil masuk sarang harimau. Seperti burung dipasung dalam sangkar. Nasibnya terlunta-lunta dan tak terawat. Tahu kenapa? Karena setiap anak-anak, baik yang berumur 7 sampai 12 mengendarainya juga. Bobot beban yang ditahan oleh sepeda kecil itu, tak sesuai dengan porsi badannya yang mungil. Untung saja, tidak berlaku ayat laa yukallifullaahu nafsan illaa wus’ahaa (Allah tidak membebani seorang hamba selain sesuai kesanggupannya).Andai sepeda itu bernafas dan bisa bicara, tentu ia akan berdo’a kepada Allah, katanya “Yaa Rabb, manusia-manusia ciptaan-Mu telah meletakkan beban di pundakku apa-apa yang aku tidak sanggup memikulnya.”

Sepeda kecil, ma’afkan aku. Aku tak sanggup menyelamatkanmu.

Seiring berjalannya waktu, pagi ini sepeda itu parkir di depan gerbang. Tepat di depan gerbang, sehingga menghalangi jalanku masuk. Saat aku melewatinya dengan motor, aku pun harus memiringkan motor melewatinya, dan saudara-saudara tahu apa akibat memiringkan motor tidak pada tempatnya? (memangnya ada tempat khusus buat miring-miringin motor? Oooo, ada, di arena balap tentunya) Dampak negatif memiringkan motor ialah kakiku kena knalpot!!

Meradang dan menerjang. Hanya itu yang ingin kulakukan ketika knalpot mencium kakiku. Tapi berhubung banyak anak-anak yang melihat, akhirnya kuputuskan untuk menahannya bak superhero. Allahu Akbar…, Allahu Akbar…, Allahu Akbar…, (lho kenapa jadi takbiran??? Karena aku tak sanggup juga menahannya, wooow…)

Peristiwa dicium knalpot itu mengingatkan aku pada kisah 19 tahun lalu, saat aku berumur 7 tahun. Adikku yang bernama Mila baru saja selesai bermain. Aku tak tahu dia main apa, tapi tiba-tiba saja dari arah kamar mandi aku mendengar rintihan suara. Suara anak kecil menangis. Saat mendekat kamar mandi kudapati pintunya terkunci dari dalam.

“Eit…, Mila.., Mila di dalam???” tanyaku dari luar. Tak ada jawaban, yang kudengar hanya tangisan.

Kupukul-pukul pintu kamar mandi, “Mila.., Mila di dalam???” tanyaku sekali lagi. Masih saja terdengar suara anak kecil menangis. Aku penasaran, gelisah, dan risau, aku tak tahu apa yang menimpa anak kecil itu di dalam sana. Apa benar dia Mila atau malah si Dina, adikku yang bungsu. Perasaanku mulai berkecamuk. Ada apa dengan salah seorang dari mereka?

Kupukul-pukul lagi pintu kamar mandi. “Buka pintu!!! Buka!!” teriakku. Belum ada reaksi kimia dari seberang. Mila entah Dina masih saja diam di sana.

Akhirnya aku pun melunak. Aku tegur dengan nada yang lebih lembut.

“Milaaa…, Mila di dalam?? Sedang apa Mila?” tanyaku dengan nada di tingkat do (maksudku nada paling dasar)

Iyo, da.., Sila di dalam,” Mila menyebut dirinya dengan panggilan ‘Sila’. Ia terus menangis.

“Buka pintunya Mila, ada yang bisa uda bantu?” Dua menit lamanya Mila memutuskan untuk membuka pintu untukku. Akhirnya ia membukakan juga. Kudapati seember air ada di depan Mila. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam air ember itu sambil terus menangis.

Manga, Sila?”(ada apa Mila?) tanyaku. Dia Diam, tapi tangannya masih ia gerak-gerakkan di dalam air. Tangisannya terus mengalir. Aku pun jadi penasaran hal apa yang menimpa Mila. Kenapa ia mencuci tangannya sambil menangis. Aku pun jadi curiga, jangan-jangan…. ia kehilangan jarinya (woow, lebai dech aku…)

Manga, Sila?caliak uda tangan Sila..”(ada apa Mila? Lihat Uda tangan Mila..) kataku pada Mila.

Dengan nada sendu sambil menangis, Mila menjawab.

“Jan kecek-kecek an ka ayah jo a ngah ndak, da. Sila takuik kanai bangih…” (jangan bilang sama ayah dan ibu ya, Uda, Mila takut dimarahi)

“Emang manga Sila?” (kenapa Mila emangnya?)tanyaku.

“Tangan Sila tabaka”

Maa Sya Allah, Mila…Mila, kalau kena api tangannya jangan direndam air!!! Bisa tambah perih. Pantesan ia terus menangis, saat merendam tangannya ke dalam air ember.

Ya Allah, siapa gadis kecil ini yang Engkau kirim kepadaku sebagai adikku. Tak terbendung air mataku melihat keluguannya dan kepolosannya menghadapi alam ini. Api dalam pikirannya akan padam bila direndam dengan air, maka saat terbakar kena api pun, ia mengira air dapat menyejukkan tangannya.

Ya Allah, ya Allah… aku mencintai gadis kecil ini dari gadis mana pun. Aku peluk dia. Lalu aku oleskan Pepsodent ke tangannya. Saat itu yang kutahu hanya Pepsodent yang dapat menyejukkan luka bakar. Lain dari pada itu tidak.

Kini, pada tanggal 22 ini, sebulan lagi adik kecilku Mila itu akan berulang tahun, peringatan untuk ulang tahunnya yang sebulan lagi kutulis kisah ini untuknya. Mila, selamat ulang tahun, jadilah adik yang baik, wanita yang shaleha untuk suami Mila.

Mila, coba Mila lihat, hari ini kaki uda kena knalpot! (hehe…, udah agak baikan kok, sebab dikasih Propolis punya buk Miya. Trims Buk Miya… 🙂

Ditulis oleh Alhas K. Ridhwan Malin Mudo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *