ALHAS KR. — https://www.malinmudo.com

Miskonsepsi Hati

Dalam aktivitas keseharian, kita sering mendengar orang-orang di sekitar kita berkata : “Kalau hati tenang, maka urusan menjadi mudah.” “Tiangnya adalah hati, kalau hati mau semua perkara dapat diselesaikan.” Kalimat-kalimat itu sering terucap, berseliweran di sekeliling kita.

Tapi pernahkah kita bertanya, apa maksud sebenarnya dari kata “Hati” itu? Benarkah “Hati” sumber kemudahan? Benarkah “Hati” yang berkehendak? Padahal sebagaimana yang telah kita pelajari di dalam ilmu-ilmu Sains bahwa hati adalah organ vital bagi tubuh manusia yang berfungsi menawarkan dan menetralisir racun yang masuk ke dalam tubuh, mengatur sirkulasi hormon, mengatur komposisi darah yang mengandung lemak, gula, protein, dan zat lain. Sama sekali hati itu tidak punya fungsi kemudahan! Ia tidak punya fungsi kehendak dan hasrat!

Dengan kata lain, sejak kita mengenal bahasa Indonesia, kita telah salah menggunakan kata “Hati” di dalam percakapan kita sehari-hari. Siapa tokoh utama yang paling bertanggung jawab, yang telah membuat kita menjadi orang salah dalam menggunakan kata “Hati”?

Untuk menjawab semua itu, saya akan mengajak pembaca merujuk kepada Naskah Al-Qur’an Surat Ar-Ra’du [13] ayat 28 :

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Artinya : “Mereka yang beriman dan tenang Qalbu-qalbu mereka dengan zikir Allah, apakah tidak dengan zikir Allah Qalbu-qalbu itu menjadi tenang?”

Uniknya Naskah Qur’an, ia menggunakan kata Qalbu, bukan Hati. Walaupun banyak terjemahan-terjemahan Qur’an mengartikan Qalbu itu dengan arti Hati. Tetapi percayalah, terjemahan Qalbu dengan makna Hati, adalah terjemahan yang keliru, bila tak ingin disebut salah. Kita akan meninjau asal kata Qalbu itu secara tinjauan lughawiyyah atau kebahasaan.

Qalbu memiliki banyak makna, di dalam kamus-kamus berbahasa Arab, kata Qalbu itu ada kalanya ia disebut dengan istilah Fuâd (فؤاد), aqal yang ada di dalam tubuh dan adakalanya dengan istilah Lubb (اللبّ), isi dan inti dari sesuatu.

Sebagaimana yang dapat kita perhatikan di dalam Al-Qur’an pada surat :

1. Surat An-Nahl [16] ayat 78 :

وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأَبْصَارَ وَالأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya : “Dan Ia (Allah) telah menjadikan bagimu sama’ (singular), abshâr (plural) dan af-idah (plural), mudah-mudahan kamu bersyukur.”

Sama’ ialah kemampuan untuk mendengar, Abshâr ialah kemampuan untuk memiliki sisi pandang yang banyak, dan Af-idah ialah kemampuan untuk memproses dan mengikat.

2. Surat Al-Hajj [22] ayat 46 :

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لاَ تَعْمَى الأَبْصَارُ وَلَكِن تَعْمَى القُلُوبُ الَتِي فِي الصُّدُورِ

Artinya : “ Maka apakah mereka belum berjalan di muka bumi, sehingga mereka punya Qalbu-qalbu yang mereka berakal dengannya, atau Telinga-telinga yang mereka mendengar dengannya, maka sesungguhnya ia tidak menutupi abshâr, akan tetapi ia menutupi Qalbu-qalbu yang ada di dalam Shudhur.”

Qalbu-qalbu ialah sesuatu yang memiliki kemampuan berbolak-balik, kiri ke kanan serta sebaliknya, atas ke bawah serta sebaliknya, depan ke belakang serta sebaliknya. Shudhur ialah tempat yang menjadi sumber segala-galanya.

Pada ayat Qur’an ini, Surat Al-Hajj [22] ayat 46, dapat kita pahami dengan baik bahwa, Qalbu fungsinya adalah untuk berakal, dan telinga fungsinya untuk mendengar. Maka tidak tepatlah bila kita mengatakan Qalbu itu bermakna Hati, karena hati tidak pernah berfungsi layaknya akal. To be continued…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *