https://www.malinmudo.com

2 sepuluh 27

Kata teman-teman, aku ini seorang yang jago puisi. Kalau menulis, kataku menawan dan rupawan. Kalau berucap, kataku sarat makna dan konstitusi. Kalau aku diam, segala sesuatu terlihat sangat menyeramkan. Huwa..huwa..huwa..

Hai kekasih surgaku, apa kabarmu di sana? Di bilik jantung hatiku? Kamu lagi ngapain? Wish you all the best forever.

Sayangku, ini adalah hari ke 1.061 tepat setelah aku ambil alih pemerintahanmu dari Papa. Iya benar, ini adalah hari ke 1.061 setelah kita menikah. Sudah seratus lima puluh satu (151) minggu plus 4 hari kita lewati hidup ini bersama, ya sekitar 290.68% tahun telah beredar. Dalam peredaran ini, mungkin aku tersenyum, tertawa terbahak-bahak, kadang termarah, dan sedikit terngambek (sedikit nyo lah :D, ndak gai banyak-banyak doh) tapi percayalah kamu senantiasa ada di atas telapak tanganku, dalam do’a yang indah yang berangkat ke langit.

Sayangku, Srimutia Elpalinaku, semoga senantiasa menjadi anak yang shalehah dirimu berbakti kepada kedua orang tua, penyeimbang di antara dua atau banyak hal yang berbeda. Semoga menjadi menantu yang shalehah pula untuk mertua, iya, untuk ayah Sjafruddin. Semoga menjadi saudara yang shalehah pula untuk Da Al, Ni If, Ni Eka, Mila dan Dina. Jadi Ciel yang shalehah untuk Azka Azzura Ayesha Kayo, dan ante yang selalu dirindukan bagi Kak Cipa beserta Dedek Apik.

Sayangku, pujaan hatiku [setelah memuja Allah dan apa yang dimuliakan-Nya], sekolahalam minangkabau adalah rumah pertama kita. Suka duka kita lewati bersama. Di sana langkah awal kita terbentuk, sudah tentunya harapanku pula kamu bahagia selalu di sana. Hubbi Darling, penuh cinta. Aku tak punya banyak kata, lagi pula stoknya baru saja kuhabiskan untuk menyusun Lesson Plan sekolah. Maklum aja ya.. 😀

Terakhir, dalam munajatku, do’aku selalu aku ada untukmu, dalam suka duka, jauh dekat, bahagia maupun susah, benar maupun salah, di dunia maupun kelak nanti di surga, sendiri ataupun bersama-sama. Semoga senantiasa dalam perlindungan Allah Ta’ala, Wish you all the best di ke-29 tahun ini.

Suami yang kamu banggakan, Alhas K. Ridhwan Uda Malin Mudo, cie cie..:D

Istriku Berkata

Aku bingung.

Diam dan gelisah.

Di sana, istriku mendatangiku dan bertanya,

“Ada apa, suamiku?”

Kujawab, “Aku merasa diriku tak punya arah. Pernikahan tidak mengubah hidupku. Sama sekali tak mengubahnya.”

Istriku berkata,

“Suamiku, dulu sebelum menikah, kamu bebas menggunakan waktumu.

Bangun pagi semaumu.

Mengajar siswa dan murid pada jam yang kamu suka.

Pulang ke rumah bila kamu lelah.

Bermain di muka laptop acer-mu.

Menulis dan mengedit photo sebagai hobimu.

Hampir semua hal kamu lakukan sekehendak hatimu pada waktu yang kamu mau.

Nah, sekarang, setelah menikah, kamu pun tetap bebas,

dan akan selalu bebas melakukan itu,”

 “Suamiku, dulu sebelum menikah, kamu membeli buku.

Ke Gramedia, ke Sari Anggrek, ke Pustaka bahkan ke Bukittinggi.

Menghabiskan waktu luangmu dengan membaca.

Mencoret buku, menulisinya, menstabiloinya, menulis catatan kecil, mencatat ide-ide yang muncul, memajang tulisan di dinding, membuat rencana, memperbaharui agenda, dan tiba-tiba tertidur di atas buku-bukumu.

Semua berserakan. Pensil, Penghapus, Rol dan stabilo itu. Di matamu, sedap dipandang. Di mataku, sama sekali bukan. Lalu akulah yang merapikan semuanya.

Nah, sekarang, setelah menikah, kamu pun tetap bebas,

dan akan selalu bebas melakukan itu,”

 “Suamiku, dulu sebelum menikah, kamu bangga dengan passport-mu.

Katamu, supaya bisa jalan-jalan, karena memang itu hobimu.

Kamu bilang, banyak dalil dari Qur’an yang menyuruh bertebaran di muka bumi.

Kamu mendapatkan tiket murah.

Kamu pergi ke Kuala Lumpur, melihat dua menara jagung, menyaksikan air-air menari di bawahnya.

Ke Johor Bahru, ke Penang yang penuh mural-mural istimewa, ke Singapura, Philiphina, Macau negara judi itu, bahkan ke Hongkong yang menjadi bual-bualan.

Pesawat dari Hooongkong!!! Karcis dari Hooongkong!!! Uang dari Hooongkong!!!

Nah, sekarang, setelah menikah, kamu pun tetap bebas,

dan akan selalu bebas melakukan itu,”

 “Suamiku, dulu sebelum menikah, kamera Nikon D5100 adalah pacarmu.

10 jam dari 24 jam sehari bisa habis bersamanya.

Kamu bilang mau lihat pacu jawi, memotret bangau, memoto anak-anak, mencari moment-moment sunset, bahkan garpu-garpu milik mama pun kamu foto.

Kamu benar-benar gila dengan kamera kesayanganmu.

Nah, sekarang, setelah menikah, kamu pun tetap bebas,

dan akan selalu bebas melakukan itu,”

“Suamiku, tidak akan ada hal yang membuatmu gelisah, ada aku bersamamu di sini, di sisimu.”

 “Suamiku, orang pasti akan berkata dan akan selalu berkata, ‘apa bedanya dirimu setelah menikah dengan sebelum menikah?’

Mereka mengira kamu sama saja dengan masa lalumu.

Tidak berubah.

Mereka mengira bahwa pernikahan bisa mengubah hidup seseorang.

Kenyataannya tidak. Pernikahan tidak bisa mengubah hidup, diriku, dirimu dan mereka.

Pernikahan bukan mengubah hidup, sama sekali bukan.

Jika ada anak manusia yang lahir dan dewasa di bumi ini berharap untuk memperoleh perubahan hidup setelah menikah, maka sia-sialah pernikahannya.

Ia itu telah keliru menempuh jalan.”

Setelah menarik nafasnya yang dalam, Istriku berkata,

“Suamiku, pernikahan kita memang tidak mengubah hidup kita. Ia tidak akan. Tapi aku bahagia, pernikahan kita telah menganugerahkan focal point yang lebih banyak. Pernikahan kita memberi point of view yang lebih luas. Pernikahan kita memperluas cara kita memandang bagaikan Nikon 10-24mm f/3.5-4.5G ED AF-S DX Nikkor Wide-Angle Zoom Lens.”

Istriku bilang,

“Suamiku, kamu punya waktu?”

Aku menjawab,

“Memangnya ada apa?”

Istriku bilang,

“Suamiku, mari kita jalan-jalan dengan kamera.”

Aku bertanya,

“Lho, ceritamu yang panjang itu apa maksudnya?”

“Pernikahan adalah sebuah kamera, suamiku…”

Aku tersenyum, kuikuti istriku, kamipun berlalu.

Itu yang membuatku setiap hari selalu jatuh cinta padanya,

Semakin jatuh cinta.

Patutlah Saya Berbangga

Sudah sepantasnya setiap orang berbangga terhadap apa-apa yang dimilikinya. Contohnya :

  1. Bila Anda punya mobil baru, Isuzu dia, Honda dia, Jazz dia, atau Karimun, mungkin juga Innova, Anda pantas bangga. Karena bisa saja mobil baru itu Anda peroleh dengan cucuran keringat bertahun-tahun, atau malah kredit yang Anda cicil-cicil perbulan, atau bisa saja hadiah undian, atau yang terakhir, yang ini kurang pantas saya sebutkan, yaitu karena hasil curian. Over all, Anda pantas bangga untuk mobil itu.
  2. Atau Anda punya gadget, handphone, android yang up to date, baru keluar dari pabrik dan serinya nomor 1 pula, orang belum punya Anda sudah memilikinya, Anda juga pantas bangga. Bila teman Anda menelepon gadget yang selebar tikar sajadah itu Anda angkat ke telinga. Suara Anda, Anda keraskan sampai dalam jarak 500 meter terdengar, kata Anda : “Ya Hallo, saham kita di Singapur sudah mulai membuahkan hasil, Gan”. Anda pun pantas bangga.
  3. Atau Anda punya pacar, putih kulitnya, harum bau ketiaknya, kalau dia bersuara, sangat manja terdengar oleh Anda, baju dan celananya kekurangan bahan, nampak dada dan paha sudah biasa. Nah Anda punya pacar seperti itu, orang lain tidak. Dalam kepala Anda, hanya Andalah pria beruntung itu yang mendapatkan bidadari dicecerkan malaikat di tengah jalan. Anda pun boleh bangga.
  4. Atau ada calon presiden, kalau tidak gara-gara Anda cucuk fotonya di bilik suara tidak akan menjadi presiden ia. Anda koar-koarkan ke orang sekampung : “Calon presiden nan seorang tu bila tak saya yang berkampanye tak naik dia menjadi presiden.” Anda pun sah berbangga.

Dari contoh-contoh di atas, kebanggaan seakan-akan bermakna : “Saya punya, orang tidak” atau “Kalau tidak gara-gara saya, tak akan menjadi dia”. Terlepas dari makna yang demikian, saya ini sangat ingin berbangga.

Adapun yang saya banggakan hanyalah seorang saja. Tidak mau saya menduakan, tidak saya lebihkan, tidak saya kurangkan, karena begitulah dia seadanya. Dan TIDAK PULA saya bermaksud “Saya punya, orang tidak” melainkan hanya sebagai tolok ukur (kata yang benar memang “tolok ukur” dan bukan “tolak ukur”, ini sudah sesuai EYD, dan sudah saya validkan kebenarannya pada Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Saya berbangga-bangga dengan tujuan supaya kira-kira kita bersama ada pembanding, ada melihat, dan ada menilai. Sedangkan Rasulullah sebagai manusia mulia pun pernah berkata agar kita mencari pembanding. Kata beliau : “Lihatlah kepada orang yang lebih rendah dari padamu, yang demikian itu supaya kamu bersyukur dan sekali-kali agar kamu jangan pernah meremehkan nikmat Tuhan, walau sekecil apapun.”

Mari kita simak, telusuri dan renungi! Semoga beriktibar…

Wanita itu kecil umurnya di bawah saya. Dia baru tamat sarjana. Dapat gelar S.Pd dari kampusnya. Tidak sembarang orang dapat S.Pd itu. Kawan saya yang sering juara 1 saja, sudah patah semangatnya meraih gelar. Katanya biarlah tak bergelar asalkan berbakti kepada Nusa dan Bangsa. Kawan saya itu tak salah. Boleh-boleh saja dia berbangga tak punya gelar, sayang, alangkah baiknya dia bergelar lalu bangga. Ibarat kita “mobil tak punya, lalu bangga pula tak punya mobil karena melihat orang kecelakaan mobil setiap hari,” pemikiran ini adalah pemikiran keliru. Yang terlihat mobil celaka saja, cobalah lihat mobil berjalan di depan Jalan Khatib Sulaiman, di By Pass, di Jalan Padang-Bukittinggi, banyak mobil tak bercelaka, malah banyak mobil bagus, dan pantaslah empunya mobil berbangga.

Kembali ke wanita kecil umurnya di bawah saya dan sudah bergelar. Dia melamar kerja lalu diterima. Nasib baik bagi dia. Karena S.Pd-nya tentulah ia menjadi guru. Diajarnya murid-muridnya dengan senang hati. Tidak hanya ilmu di kepala yang ia transfer, tapi uang di rekening bank-nya ikut tertransfer membeli bahan dan wacana untuk kesejahteraan muridnya. Ia senang, muridnya pun turut senang. Rasa-rasanya tidak ada guru sebaik dia.

Setahun mengajar, ia pindah kelas. Kalau tahun sebelumnya ia mengajar dengan semangat, jiwa dan raga, maka tahun sekarang pun ia sangat bersemangat bersahaja. Murid senang, ia pun senang. Namun Allah tentulah menguji hamba-Nya. Tidak selamanya mulus jalan ke surga, ada juga halang merintang.

Ada kasus di kelasnya, murid-muridnya tak terpantau baik sehingga heboh orang sesekolah karena muridnya terkena tindakan agak asusila (saya tulis kata ‘agak’ memang bukan sepenuhnya, melainkan sedikit saja). Dia sebagai guru tentu merasa salah, tapi yang bukan kalah hebohnya, guru-guru yang lain menyalahkan dia. Pihak sekolah bukan pula mencari solusi tapi malah menyudutkannya.

Rasa-rasa saya sebagai orang yang mulia, atau sebagai orang yang biasa, beban seperti ini adalah tanggung jawab bersama sesama guru di sekolah, bukan kepada seorang guru yang berada di kelas.

Tahulah Anda sekarang, bahwa harimau yang semangat pun bisa surut, sebagai guru bila salah bersama ditumpahkan kepada satu orang, maka ciutlah yang satu orang itu. Sudahlah, karena bakti terhadap Nusa, mengajar tetap dijalankan, tapi tentu tidak sesemangat semembara sesaat di awal dahulu, sudah memudar dia.

Ada dia bersungguh-sungguh dalam bekerja, maka yang terlihat dan dicari-cari orang adalah malasnya. Ada dia bersantun-santun bersama para muridnya, maka yang terlihat dan dicari-cari orang adalah kasarnya. Ada dia menolong, maka yang terlihat dan dikatakan orang dialah perusuh.

Allah Maha Adil, Allah Maha Bijak. Karena ekspektasi padanya sudah berkurang, maka fokuslah ia pada kuliah melanjutkan studi S.Pd-nya. Namun dalam jiwanya, yang mengajar tetap mengajar, yang anak didik tetap diperlakukan sebagaimana layaknya anak didik. Heran saya, padanya masih ada “rasa memberi harapan banyak” padahal orang-orang sudah tak berharap terhadap dirinya lagi.

Maka bila melihat, meninjau dan menelusuri “rasa memberi harapan banyak” yang ia miliki, mengakulah saya bahwa dialah guru sejati yang pernah saya lihat. Saya kan sudah banyak berguru, ada guru nahwu, ada guru hadits, ada guru tafsir, ada guru fisika, ada guru kimia, belum pernah saya bertemu dengan guru yang memiliki rasa memberi harapan banyak, meski secuil insan tak berharap dia ada. Bagi saya, itulah cinta hakiki.

Bila saya memiliki sifat “orang tak berharap pada kita, tapi kita senantiasa terbuka untuk memberi harapan” maka sesungguhnya itulah kekayaan yang paling kaya. Tapi saya tak punya sifat sedemikian. Saya tak sanggup bersifat demikian. Hanya dia yang punya, tidak mau saya menduakan, tidak saya lebihkan, tidak saya kurangkan, karena begitulah dia seadanya. Dialah Srimutia Elpalina, S.Pd, M.Pd kepadanya saya berguru dan patutlah saya berbangga karena dia adalah istri saya. Alhamdu lillah,

Setelah satu edar bumi ini mengelilingi matahari, setahun sudah kita membangun rumah tangga, hanya ini baru yang bisa saya tuliskan, untukmu dinda, Hubbi Fillah (cintaku karena Allah), semoga Allah berkahi dirimu dengan rasa syukur dan sabar yang belum pernah Ia berikan kepada makhluk sebelum ataupun sesudah dirimu. Selamat Hari berkeluarga, sayang…

Suatu Saat

Mari kita lihat, suatu saat Anda duduk.

Di depan monitor 17 inci.

Membuka Adobe Photoshop 6, lalu mengedit foto.

Foto pacu jawi.

Ketika sedang asyik mengedit foto pacu jawi, tiba-tiba…

Jawi dalam foto itu hidup.

Ia melompat keluar monitor.

Anda kena cipratan lunau jawi.

Muka Anda bacilemok, bakalupun.

Kemudian Anda pergi ke kamar mandi membasuh muka.

Lalu Anda balik lagi mengedit foto.

Tapi di layar monitor sudah tidak ada jawi lagi…

Sudah tidak ada pacu lagi…

Sebab semua isi fotonya sudah keluar dari monitor dan berhamburan.

Apakah kata-kata yang pertama kali keluar dari mulut Anda???

Apa kata-kata pertama yang terucap???

Kalau saya “Ai yayai, pantuang… ka di den tuw.. “

sekolahalam minangkabau

APA yang terlintas dalam pikiran Anda ketika disebutkan “sekolahalam minangkabau”? Sebuah sekolah? Iya. Tempat belajarnya di alam? Iya. Sarat dengan unsur dan budaya minangkabau? Iya. Nah akan muncul sendiri dalam pemikiran Anda bahwa sekolahalam minangkabau ialah sebuah institusi sekolah dengan fasilitas belajar di alam yang sarat dengan budaya minangkabau.

Pemaknaan sekolahalam minangkabau tidak semata-mata dipisahkan antara sekolahalam dengan minangkabau. Melainkan ia adalah suatu kesatuan yang utuh. Kata sekolah, alam dan minangkabau merupakanperpaduan unik. Bagaikan perpaduan teh, air dan gula. Sekolah adalah sebuah teh, bahan racikan, yang mengalami proses, dibentuk, ditata dan diatur. Alam adalah air, alam adalah sebuah tempat di mana sekolah diletakkan, sumber-sumber ilmu sebuah sekolah berasal dari alam.

Cukupkah kata sekolah digabung dengan alam saja? Cukup! itu artinya Anda meminum teh hanya diseduh air. Dalam Bahasa Minang disebut Teh Pahik, aliasTeh Pahit. Meminumteh tanpa gula adalah minuman yang cukup tapi belum terasa nikmat.

Untuk menimbulkan rasa manis dalam sebuah Teh yang telah diseduh air perlu adanya gula. Nah, gula itulah yang kita kenal dengan sebutan Minangkabau. Lantas keunikan apa yang dimunculkan oleh kata Minangkabau?

Minangkabau itu sendiri berasal dari kalimat “mukminang kanabawi” yang artinya beriman seperti para nabi. Bila ada orang minang tidak beriman kepada Allah, bukan minang namanya. Ia dianggap tidak sah dalam beradat minang. Sesuai dengan tutur Budayawan Minang Mak Katik Musra Dahrizal. “urang minang nan indak batuhankan Allah, indak barasulkan Muhammad, indak dianggap sah dalam adaik,” Orang Minang yang tidak bertuhankan Allah, tidak berasulkan Muhammad, tidak dianggap sah dalam Adat. Oleh sebab itulah ada kalimah Syahadat, atau dalam penuturan Mak Katik Musra Dahrizal kata Syahadat beliau penggal menjadi “Sah Adat”.

Minangkabau itu sangat luas. Ada Lareh, ada Luhak, ada Darek, ada Rantau, ada Adat, ada Istiadat. Bahkan keluasan kata minangkabau itu sendiri diukir dalam kalimah “Jikok dikambang salaweh Alam, Jikok dilipek saleba kuku,” Jika (minangkabau) dibentang maka ia seluas Alam Raya ini, Jika ia (minangkabau) dilipat ia hanya selebar kuku.

Sampai pada hal ini sudah ada wawasan bagi kita bahwa sekolahalam minangkabau adalah sebuah institusi sekolah dengan fasilitas belajar di alam yang sarat dengan budaya minangkabau. Lalu apa saja yang diajarkan oleh sekolahalam yang menyandang nama minangkabau itu? Kita akan terangkan, namun bersabarlah.

Kita Terbuka

Kita terbuka untuk sebuah kritik.

Jangan untuk sebuah, untuk banyak kritik kita terima, bahkan sampai kita mati.

Sampai kita lenyap bahkan kita mampus gara-gara kritikan itu.

Kita terbuka untuk sebuah kritik.

Kritik yang menyatakan kinerja kita sudah bobrok, kerjasama kita tidak baik.

Sampai kita hadir sama dengan ketidakhadiran kita.

Kita terbuka untuk sebuah kritik.

Untuk masalah anak-anak yang semrawut dan moral yang kocar-kacir.

Sampai anak-anak hanya menurut bila diperintah, tanpa perintah tak ada turutan.

Kita terbuka untuk sebuah kritik.

Bahwa pembenahan kita kadang-kadang salah, tak pantas kita kerjakan kita kerjakan.

Kerja kita lupa kita kerjakan, kerja rekan kita kita salah-salahkan.

Kita terbuka untuk sebuah kritik.

Duduk di depan murid, suara kita tinggi, karena kita pikir mereka meribut

Berdiri di depan lapangan, kita lihat salah mereka berdiri, kita tegur

Kita terbuka untuk sebuah kritik.

Orang tua bilang anak mereka begini, kok sekarang gak lagi???

Orang tua bilang kenapa gak begini lagi???

Kita terbuka untuk sebuah kritik.

Kita loyo, energi kita zero, tapi masih juga hidup kayak lampu menyala di disco.

Kita sudah bukan kita. Kita sesama kita adalah pesaing bagi kita yang lain.

Ini adalah refleksi, renungan, kritik, dan motivasi.

Akankah kita berbenah diri atau tidak.

Pulang kepada kita. Kita yang bodoh sekaligus pintar ini.

Semua pulang kepada kita, tapi kita menolak.

Kita terbuka untuk sebuah kritik, kecuali Fasilitator.

untuk ‘sekolahalam minangkabauku’ tercinta, untuk rekan kerjaku yang bijaksana, untuk dunia anak-anak dan untuk surga-surgaku, aku Alhas K. Ridhwan, Fasilitator (kuulangi, Fasilitator) aku menulis.

Tentang Cinta

Ada enam hal tentang cinta :

Cinta adalah rasa suka atau rasa sayang luar biasa.

Cinta yang baik dan benar, seharusnya benar-benar baik (berdasarkan niat baik yang dilaksanakan secara sebaik-baiknya, dan tidak jahat),

Cinta itu 1. positif (tidak negatif),

Cinta itu 2. konstruktif (bersifat membangun, tidak merusak),

Cinta itu 3. inklusif (menyatu, tidak memisahkan diri),

Cinta itu 4. protektif (bersifat melindungi, dan tidak mengancam eksistensi pihak lain),

Cinta itu 5. produktif (menghasilkan atau membuahkan hal-hal yang baik dan bermanfaat (maslahat) bagi umat manusia maupun lingkungan hidup kita bersama),

dan Cinta itu 6. luktratif (luctrative = menguntungkan, tidak merugikan pihak manapun juga).

Dan keenaman itu kuperoleh darimu Mutia-ku.

Keluargaku

Dan betapapun jayanya aku sampai saat ini adalah berkat kapal sebiduk yang kadang oleng kadang terlamun oleh ombak, yaitu Keluargaku. Tersebutlah alkisah, telah ditakdirkan oleh Allah dan ditetapkan oleh zaman bahwa nakhodanya ialah seorang fotografer amatir dari Kamang Tangah, beliau ringkaslah sebutan itu dengan nama FAKTA (Fotografer Amatir Kamang Tangah). Orang sekampung mengenal beliau dengan “Pak Pud nan Panjang Abuak”. Ciri khas itu tak lepas dari diri beliau sampai adik kandungku si bungsu Wahdina menamatkan kuliahnya. Tuhan Allah mengizinkan beliau berpanjang rambut selama 40 tahun. Luar Biasa. Beliau itu adalah ayahku. Yang bacaan Al-Qur’an beliau setiap pagi di masa-masa aku kecil mengisi kepalaku. Yang dengan kata-katanya aku jadi ciut, kadang takut, tapi berkat kata beliau juga aku berani dan aku menjadi. Beliaulah nakhoda kapal itu. Nama beliau SYAFRUDDIN Saidi Mangkuto BIN ANAS Saidi Batuah.

Tersebut pula wanita cantik rupa, manis tutur katanya, lemah lembut jiwanya, keturunan asli Rang nan Basuku Chaniago, 6 orang bersaudara. Beliau ini adalah yang keempat dari berenam. Beliau pula yang menghuni rumah di kampung. Amat pintar beliau memasak. Rendang buatan beliau belum pernah aku temukan tandingannya sampai aku berumur 28 tahun ini, bahkan sampai aku menjelang masa pernikahan ini. Asalkan dapat oleh beliau bajuku terserak di kamar, alamat baju itu akan hilang oleh beliau, beliau sembunyikan entah, beliau buang entah. Bila aku hendak pergi raun bermain dengan teman-temanku, maka bila aku belumlah makan, beliau teriaki aku dari rumah, beliau suruh aku makan. “jan main ka main sen pangana ang buyuang, alah makan bagai ang?” kata beliau padaku. Beliau Bernama ELVIATI BINTI JAMARAN Sutan Mudo.

Aku adalah anak pertama dari buah manis pernikahan ayah Syafruddin dan angah Elviati. Anak nan tinggi kalau dijuluak jatuah juo. Anak nan jauah kalau dihimbau musti babaliak pulang. Anak nan gadang kalau disarayo haruslah bajalan. Akulah permata pertama hidup mereka, yang esok sudahlah akan diambil oleh anak gadis orang untuk dijadikan suaminya.

Maka tidaklah aku duduk di malam ini di hadapan monitor mengetik kalimat dan kata-kata sebagai pengisi-isi waktu luangku. Sekali-kali yang demikian itu tidak. Melainkan adalah rasa syukurku yang tak terhingga, tak terhasta, terhadap ayah dan angahku, dua permata yang menghiasi hidupku. Berkah Allah jualah Ayah dan Angah membesarkan aku, menyekolahkan, menamatkan kuliah, mempersitungkinkan, dan mendidikku penuh sayang rindu, hingga saat ini saat kutuliskan kata-kata ini belumlah bisa aku membalas budi kepada mereka berdua. Jika berkenan izin dari Allah, kelaklah jua aku bisa memperlihatkan kepada mereka karunia Allah yang mulia melalui perantaraan tanganku.

Ayah dan Angah, ma’af kupinta dari lubuk hati nan dalam dan berkah dari ridhomu, izinkanlah anakmu Si Buyuang Nan Mada ini mengikuti sunnah Rasulullah esok Sabtu 1 Dzulqaedah 1434 hijriyah, membangun rumah tangga dengan mahligai Ridho darimu. Bila adalah khilaf dan kesalahan yang belum berkenan di hatimu karena ulahku, atau sekira-kira pernah tingkah kurenah yang kuperlihatkan mengganjil di dalam pandanganmu, kupintakan kepada Allah, sudilah hendaknya Ayah dan angah memberi ma’af.

Pada Allah aku hamba-Nya nan Dho’if ini bermohon, berkahilah pernikahanku, limpahkan rahmat dan ridho dari-Mu untuk keluargaku. Jadikan kami hamba yang ikhlas dalam menerima ketetapan dariMu, amiin ya Rabbal ‘Alamiin.

Banyak Persamaan Kita

Benar kita sama MENYUKAI,

Kamu menyukai perencanaan

Aku menyukai pendadakan

Benar kita sama BERJALAN,

Kamu berjalan dengan impian

Aku berjalan dengan mimpian

Benar kita sama BERBAGI,

Kamu berbagi kepentingan

Aku berbagi keinginan

Benar kita sama MENGERTI,

Kamu mengerti sebuah kesalahan

Aku mengerti sebuah kebetulan

Benar kita sama MEMPERBAIKI,

Kamu memperbaiki sampai ke akar-akar

Aku memperbaiki sampai ke ujung-ujung

Benar kita sama SALAH,

Kamu salah karena lupa

Aku salah karena sengaja

Benar kita sama BERTIKAI,

Kamu bertikai bahwa kamu benar

Aku bertikai bahwa aku tak salah

Benar kita sama JATUH CINTA,

Kamu jatuh cinta karena masa depan

Aku jatuh cinta karena kenangan

Kita banyak PERSAMAAN,

sebab itu kita bersatu

bukan untuk menggabungkan persamaan itu

semisal menggabungkan sapu dan tangan

tapi meleburkan PERSAMAAN itu, lalu menciptakan PERSAMAAN baru

sehingga menjadi sapu tangan

tidak ada lagi sapu…

tidak ada lagi tangan…

yang ada hanya…

SAPU TANGAN

Puisi Cinta untuk Tercinta

(S)ejak kebisuan tidak lagi berlabuh di atas bibirku

(R)indu pun mulai bersarang

(I)tulah masa-masa kehadiran, Mutia

(M)asa segenap kekuatan mulai tumbuh menjulang

(U)ntuk kuraih semua asa dan impian

(T)uk gapai cita-cita sanubari hati

(I)tulah masamu, masa engkau hadir di hatiku

(A)ku bersyukur….

(E)quator adalah garis tengah Bumi.

(L)intangnya tak tahu aku lintang berapa

(P)adahal aku yakin pada titik nol

(A)ku yakin kamu berada di equator itu sekarang

(L)elah menungguku,

(I)nsan nan tak jemu menggalaukanmu

(N)amun percayalah,

(A)ku padamu cinta, tanpamu tiadalah berarti

Untukmu yang tercinta, puisi cinta ini kutulis.

BIDADARI PEMBUKA PINTU SEMUA PINTU

2-8-13

10