Perang Hoax

Perang Hoax.

Hari ini, ada angka-angka digital yang bisa dicopy-paste. Ini adalah hasil usaha dari zaman ke zaman sesuai dengan perkembangan. Dahulu hanya ada angka dalam benak, yang hanya bisa diungkap dengan tutur atau ucapan. Lama-lama ia menjadi angka yang bisa ditulis. Setelah ia bisa ditulis, hari ini ia bisa dicopas.

Perjalanan angka yang dulu hanya berupa ide, lalu tutur, kemudian tulis dan sampai pada taraf copas, adalah perjalanan teknologi. Jangan pungkiri. Namun titik persoalannya ialah, apakah teknologi ini masih tetap menjaga konsistensi ide yang awal?

Kita telusuri satu per satu.

  1. Taraf ide, orang tidak bisa mengcopy ide seseorang bila ide itu masih di dalam kepalanya, belum ditutur dan belum diungkapkan.
  2. Taraf tutur, orang bisa saja mendengar lalu mengerjakan ide tersebut sesuai dengan idenya.
  3. Taraf tulis, orang tak perlu bertemu dengan penutur dan pencetus ide, cukup ia mendapat bahan tulisannya, lalu melaksanakan ide.
  4. Taraf jiplak, alias copas.
    Pada masa terakhir ini, saya tuturkan bahwa jiplak ada baiknya tapi ada juga buruknya.

Baiknya, kita dari kecil menjiplak. Meletakkan kertas transparan lalu menoreh garis. Sehingga kita mendapatkan gambar persis dengan aslinya. Kita dulu waktu kecil senang melakukan ini.

Buruknya, kita kehilangan kreativitas karena menjiplak. Kita hanya menyalin garis yang telah ada. Sehingga bila kita rujuk ke atas. Taraf jiplak sudah membuat orang tak lagi punya ide. Untuk membuat orang kreatif meskipun setelah ia menjiplak, kita butuh taraf selanjutnya. Apa taraf selanjutnya itu?

Taraf yang perlu kita munculkan selanjutnya, yaitu :

5. Taraf modif atau modifikasi. Taraf ini adalah mengubah sisi jiplak agar tak terlalu mirip dengan ide awal. Taraf modif ini sebenarnya lebih parah lagi dibandingkan dengan yang ke-4. Taraf ke-5 ini seakan-akan adalah pemalsuan. Mengubah ide asal, lalu seolah-olah ide terakhir ini adalah miliknya.

“Seolah-olah milik kita” inilah yang dihasilkan oleh teknologi. Teknologi adalah kemampuan menghasilkan “seolah-olah”. Lihatlah mereka yang menggunakan gadget, buat menampakkan seolah-olah kaya, seolah-olah liburan ke luar negeri, seolah-olah punya mobil, seolah-olah punya dll.

Bijaklah dalam berteknologi.
Salam Sekolah Alam,

Alhas K. Ridhwan, www.malinmudo.com

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *