ALHAS KR. — https://www.malinmudo.com

Qur’an yang Bukan Teks

Al-Qur’an bukanlah buku yang kamu beli dari toko-toko buku seharga sekian ribu, di luarnya berlabel Al-Qur’anul Karim cetakan Penerbit A, B dan C lalu kamu bawa pulang ke rumah untuk kamu baca atau kamu suruh anakmu membacanya. Itu bukanlah Al-Qur’an. Itu hanya sebuah teks yang tiada berarti sebab itu kamu tidak akan memperoleh berkahnya hanya karena membaca dari buku yang sudah kamu beli itu. Itu hanyalah kumpulan teks, semerdu dan sehebat apapun teknikmu membacanya, ia hanyalah teks yang dibaca. Saya entah perlu mengatakan beruntung atau merugi mendapati Al-Qur’an yang dibeli dari toko buku seperti ini. Sebab ia hanya teks.

Yang pantas dikatakan beruntung menurut saya ialah mereka yang dikirimi Mushaf Qur’an oleh Khalifah Utsman Bin ‘Affan, baik dikirim ke Madinah, ke Mekkah, ke Bahsrah, ke Kufah dan ke Syam. Sebab mereka dikirimi sebuah Mushaf yang berupa teks langsung dikirimkan bersama itu para pembacanya, yang diistilahkan sekarang dengan sebutan Muqri’. Muqri’ ialah orang yang akan mengucapkan Qur’an sebagaimana Rasul mengucapkannya, sehingga misinterpretasi menjadi lebih sedikit. Mereka yang dapat kiriman Utsman ini benar-benar beruntung. Sebab teks diperoleh dengan dikirimi orang yang bertugas membenarkan membacanya bila salah.

Mencontoh ke teknik Ustman ini, artinya, sekarang bila ada yang membeli Qur’an tapi ia tidak membeli Muqri’nya bisa saja ia tersesat di dalam teks.

Maka wajarlah memprihatinkan jika anak-anak sekarang mempelajari Al-Qur’an. Bukan saja anak-anak sekarang, saya pun yang mempelajarinya mesti pula merasa prihatin. Muncul tanya-tanya dalam benak saya :

  1. Sudah betulkah cara saya membacanya sehingga pemahaman saya pun betul?
  2. Sudah seperti itukah maunya Rasul dalam pemahaman saya sehingga yang saya pahami dapat pula saya praktikkan dengan betul?
  3. Bila sudah saya praktikkan dengan betul, apalagi yang mesti saya praktikkan dari Qur’an itu?

Wahai saudara, hari ini kita hanya membaca Qur’an yang berupa teks itu, padahal Qur’an di zaman Rasul mengalir dari mulut beliau tanpa beliau melihat teks seperti kita melihat Qur’an sekarang.

Qur’an yang kita peroleh hari ini adalah teks yang dibaca. Teks yang dibaca tidaklah sama dengan bacaan yang ditekskan di zaman Rasul. Berbeda rasa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *