https://www.malinmudo.com

Sistematis Bahasa Semut

حَتَّىٰٓ إِذَآ أَتَوۡاْ عَلَىٰ وَادِ ٱلنَّمۡلِ قَالَتۡ نَمۡلَةٞ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّمۡلُ ٱدۡخُلُواْ مَسَٰكِنَكُمۡ لَا يَحۡطِمَنَّكُمۡ سُلَيۡمَٰنُ وَجُنُودُهُۥ وَهُمۡ لَا يَشۡعُرُونَ

Hingga ketika mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut, “Wahai semut-semut! Masuklah ke dalam sarang-sarangmu, jangan sampai kamu diinjak-injak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.”

-Sura An-Naml, Ayah 18

Di antara keindahan Bahasa Semut di dalam ayat ini saat memimpin teladannya adalah sistematis berpikirnya. Coba Anda bayangkan semut berpikir sistematis dalam mengomandoi pasukan! Mari kita check :

1. Memanggil
Si Ratu Semut mamanggil pasukannya dengan panggilan “Wahai”

2. Memperingatkan
Si Ratu semut memperingatkan situasi dan kondisi kepada “Semut-semut”

3. Menyuruh
Si Ratu menyuruh pasukan masuk ke dalam markas dengan kalimat “Masuklah ke dalam sarang-sarangmu”

4. Melarang
Si Ratu semut melarang mereka agar tak terinjak-injak kaprah oleh Sulaiman dengan kalimat : “Jangan sampai kamu diinjak-injak”

5. Mempertegas
Di dalam kalimat jangan sampai kamu diinjak-injak, Si Ratu menggunakan nun Taukid.

6. Mengkhususkan
Si Ratu mengkhususkan “Sulaiman”

7. Mengumumkan
Si Ratu membuat umum kalimat “dan Pasukannya”

8. Memaklumkan
Kata si Ratu : “mereka tidak menyadarinya.”

9. Meniadakan
“Tidak menyadarinya”

Beda Baik dengan Dakwah Perbaikan.

ما الفرق بين الصالح والمصلح ؟
Apa bedanya Orang Baik (Shalih) dan Penyeru Kebaikan (Mushlih)..?
الصالح خيره لنفسه والمصلح خيره لنفسه ولغيره.
Orang Baik, melakukan kebaikan untuk dirinya.
Sedangkan Penyeru Kebaikan (Muslih) mengerjakan kebaikan untuk dirinya dan orang lain..
الصالح تحبُه الناس. والمصلح تعاديه الناس .
Orang Baik, dicintai manusia..
Penyeru Kebaikan dimusuhi manusia..
لماذا !!!؟
Koq gitu…?!?!
الحبيب المصطفى(صلى الله عليه وسلم) قبل البعثة أحبه قومه لأنه صالح .
Rosulullah shalallahu alaihi wa salam sebelum diutus, beliau dicintai oleh kaumnya karena beliau adalah orang baik..
ولكن لما بعثه الله تعالى صار مصلحًا فعادوه وقالوا ساحر كذاب مجنون.
Namun ketika Allah ta’ala mengutusnya sebagai Penyeru Kebaikan, kaumnya langsung memusuhinya dengan menggelarinya; Tukang sihir, Pendusta, Gila..
ما السبب ؟
لأن المصلح يصطدم بصخرة
أهواء من يريد أن يصلح من فسادهم .
Apa sebabnya..?
Karena Penyeru Kebaikan ‘menyikat’ batu besar nafsu angkara dan memperbaikinya dari kerusakan..
ولذا أوصى لقمان ابنه بالصبر حين حثه على الإصلاح لأنه سيقابل بالعداوة.
Itulah sebabnya kenapa Luqman menasihati anaknya agar BERSABAR ketika melakukan perbaikan, karena dia pasti akan menghadapi permusuhan..
( يا بني أقم الصلاة وأمر بالمعروف وانهَ عن المنكر واصبر على ما أصابك )
Hai anakku tegakkan sholat, perintahkan kebaikan, laranglah kemungkaran, dan bersabarlah atas apa yang menimpamu..
قال أهل الفضل والعلم : مصلحٌ واحدٌ أحب إلى الله من آلاف الصالحين ،
Berkata ahli ilmu:
Satu penyeru kebaikan lebih dicintai Allah daripada ribuan orang baik…
لأن المصلح يحمي الله به أمة ،والصالح يكتفي بحماية نفسه .
Karena melalui penyeru Kebaikan itulah Allah jaga umat ini..
Sedang orang baik hanya cukup menjaga dirinya sendiri…
فقد قال الله عزَّ و جلَّ في محكم التنزيل :
Allah ta’ala berfirman :
( وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُون َ).
“Dan tidaklah Tuhanmu membinasakan satu negeri dengan zalim padahal penduduknya adalah penyeru kebaikan..”
ولم يقل صالحون …
Allah tidak berfirman;
“…Orang Baik (Sholih)”
كونوا مصلحين ولا تكتفوا بأن تكونوا صالحين.
Maka jadilah PENYERU KEBAIKAN, jangan merasa puas hanya sebagai ORANG BAIK saja…
بارك الله لناو لكم جميعا

Amanah yang Dikhianati

AMANAT (amanah) adalah beban yang harus diemban setiap orang mukmin dan bukan hanya seorang pemimpin saja. Pasalnya, Nabi SAW menegaskan bahwa setiap orang adalah pemimpin, setidaknya memimpin dirinya sendiri.

Allah SWT berfirman :

(یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ لَا تَخُونُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ وَتَخُونُوۤا۟ أَمَـٰنَـٰتِكُمۡ وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ)
[Surat Al-Anfal 27]

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS Al-Anfal: 27).

Amanat pada hakikatnya adalah tanggung jawab besar. Saking beratnya, amanat ini telah Allah tawarkan kepada langit, bumi dan gunung-gunung. Namun semuanya enggan memikul amanat itu karena mereka khawatir akan mengkhianatinya.

Lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Walaupun sebenarnya manusia itu amat dzalim dan bodoh.

(إِنَّا عَرَضۡنَا ٱلۡأَمَانَةَ عَلَى ٱلسَّمَـٰوَ ٰ⁠تِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱلۡجِبَالِ فَأَبَیۡنَ أَن یَحۡمِلۡنَهَا وَأَشۡفَقۡنَ مِنۡهَا وَحَمَلَهَا ٱلۡإِنسَـٰنُۖ إِنَّهُۥ كَانَ ظَلُومࣰا جَهُولࣰا)
[Surat Al-Ahzab 72]

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat dzalim dan amat bodoh.”(QS Al-Ahzab: 72).

Karena itu, maka barang siapa yang menunaikan amanat itu, maka baginya pahala yang melimpah. Sebaliknya, barang siapa yang tidak menunaikan atau bahkan mengkhianatinya, maka baginya siksa yang keras.

Jika seseorang bersifat amanah, baik sebagai pribadi, kepala rumah tangga, pimpinan di lingkungan suatu komunitas masyarakat atau tempat kerja, termasuk gubernur atau Amir di suatu wilayah, maka ia mendapat kepercayaan dari manusia dan kemuliaan dari Allah. Mereka akan mendapat keuntungan dari sifat amanat itu.

Di dalam haditsnya, Rasulullah SAW mengingatkan tentang menyia-nyiakan amanat.

“Bagaimanakah menyia-nyiakan amanah itu?” Rasulullah bersabda,”Apabila suatu perkara diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah hari kiamat!” (HR Bukhari).

Rasulullah SAW telah menegaskan bahwa orang-orang yang tidak bisa memelihara amanat yang dibebankan kepadanya, maka sifat-sifat munafik melekat dalam kepribadiannya. Sedangkan balasan bagi orang munafik adalah neraka.

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.” (QS. An-Nisa: 145). []

Peribahasa Setelah Pemilu

Koleksi Peribahasa setelah Pemilu (jangan salah paham, KPU di sini artinya Komisi Pemintaran Umat) :

  1. Dimana KPU dipijak, di sana keliru dijunjung.
    Artinya : bila ada orang coba menyalah-nyalahkan KPU, biasanya ia menjunjung kekeliruan.
  2. Ada KPU, Ada Keliru.
    Artinya : Komisi Pemintaran Umat bisa saja salah, karena ia manusia.
  3. KPU di pelupuk mata tak tampak, keliru di seberang lautan kelihatan.
    Artinya : Orang hanya bisa menyalahkan KPU saja, padahal KPU telah bekerja sungguh-sungguh untuk umat.
  4. Besar KPU daripada salah entri.
    Artinya : Komisi Pemintaran Umat lebih bersahaja dari pada kesalahan dalam mengentri data.
  5. Sekali langsung ke KPU, seumur hidup orang tak percaya.
    Artinya : Ada juga orang-orang yang tak percaya dengan kujujuran KPU.
  6. KPU beriak, tanda tak dalam.
    Artinya : Komisi Pemintaran Umat kalau sedang ribut, berarti air sedang tidak ada. Suasana sedang tidak berair dan tidak basah.
  7. Bagaikan menangkap ikan di kolam KPU.
    Artinya : Jangan pernah menangkap ikan di kolam KPU tanpa izin.
  8. Ada uang KPU disayang, tak ada uang KPU melayang.
    Artinya : Datang ke KPU kalau ada maunya saja.
  9. Airnya KPU, ikannya Keliru.
    Artinya : Ikan-ikan berenang di kolam yang salah.
  10. Bagaikan KPU di daun talas.
    Artinya : Talas tidak kuat menahan beban KPU.
  11. Bagaikan KPU dalam selimut.
    Artinya : KPU Butuh istirahat.
  12. Duduk sama KPU, berdiri tak sama tinggi.
    Artinya : Jangan duduk-duduk di tempat KPU.
  13. Datang tidak di KPU, pulang tak diantar.
    Artinya : Jelangkung tidak bisa berada di sekitaran Komisi Pemintaran Umat, sebab semua anggotanya rajin mengaji.

Ditulis oleh Alhas K. Ridhwan Malin Mudo.

Berhenti Jadi KPU

Maka pada hari ini, setelah pemilu ini berbondong-bondonglah anggota KPU garis lurus menuju kadai dan lapau. Duduklah mereka di sana menceritakan nasib yang telah ditakdirkan Allah baginya.

KPU : “Manyasa Den jadi anggota KPU…😑” ia membuka suara.
KAWAN SUBALAH : “Ba a to, kawan?” Celetuk teman di sebelahnya.
KPU : “Aden karajo siang jo malam, ma ampeh-ampehan tulang, tapi aden kanai pitanah, kecek urang Aden indak pandai baretong…🤨”
KAWAN SUBALAH : “Kapuyuak dek kawan, siang malam kawan karajo cek kawan. Satahu den kawan karajo sakali 5 tahun no lah. Pas pemilu se…😜 Tu ba a lai, Kawan?”

KPU : “Manyasa Den jadi anggota KPU, jariah Den indak diharagoi dek Rakyat Indonesia ko…😑”
KAWAN SUBALAH : “Rancak kawan baranti se karajo lai..”
KPU : “Iyo, aden kabaranti jadi anggota KPU ko. Iyo indak tahan Den disasali urang tiok suduk. Amuah abih Den gara-gara sosmed ko…”
KAWAN SUBALAH : “Rancak mah kawan. Tapi kawan agak-i pulo. Nan etong baretong ko alun salasai lai kawan, tabangkalai karajo beko kawan.” pungkas kawan sebelahnya.

KPU : “Jadih melah, bia den salasai an, tapi suruah baranti urang maeboh di sosmed tu dulu dih…” Ucap anggota KPU Garis Lurus.
KAWAN SUBALAH : “Bato kawan, kapilah menggonggong, anjiang 🐕…berlalu..”
KPU : “Jadi kawan kecek an den anjiang..” 😣
KAWAN SUBALAH : “Mungkin….” tertegun kawan subalah sebentar. “Mungkin kawan salah danga… “

Percakapan berakhir.
www.malinmudo.com

Perang Hoax

Perang Hoax.

Hari ini, ada angka-angka digital yang bisa dicopy-paste. Ini adalah hasil usaha dari zaman ke zaman sesuai dengan perkembangan. Dahulu hanya ada angka dalam benak, yang hanya bisa diungkap dengan tutur atau ucapan. Lama-lama ia menjadi angka yang bisa ditulis. Setelah ia bisa ditulis, hari ini ia bisa dicopas.

Perjalanan angka yang dulu hanya berupa ide, lalu tutur, kemudian tulis dan sampai pada taraf copas, adalah perjalanan teknologi. Jangan pungkiri. Namun titik persoalannya ialah, apakah teknologi ini masih tetap menjaga konsistensi ide yang awal?

Kita telusuri satu per satu.

  1. Taraf ide, orang tidak bisa mengcopy ide seseorang bila ide itu masih di dalam kepalanya, belum ditutur dan belum diungkapkan.
  2. Taraf tutur, orang bisa saja mendengar lalu mengerjakan ide tersebut sesuai dengan idenya.
  3. Taraf tulis, orang tak perlu bertemu dengan penutur dan pencetus ide, cukup ia mendapat bahan tulisannya, lalu melaksanakan ide.
  4. Taraf jiplak, alias copas.
    Pada masa terakhir ini, saya tuturkan bahwa jiplak ada baiknya tapi ada juga buruknya.

Baiknya, kita dari kecil menjiplak. Meletakkan kertas transparan lalu menoreh garis. Sehingga kita mendapatkan gambar persis dengan aslinya. Kita dulu waktu kecil senang melakukan ini.

Buruknya, kita kehilangan kreativitas karena menjiplak. Kita hanya menyalin garis yang telah ada. Sehingga bila kita rujuk ke atas. Taraf jiplak sudah membuat orang tak lagi punya ide. Untuk membuat orang kreatif meskipun setelah ia menjiplak, kita butuh taraf selanjutnya. Apa taraf selanjutnya itu?

Taraf yang perlu kita munculkan selanjutnya, yaitu :

5. Taraf modif atau modifikasi. Taraf ini adalah mengubah sisi jiplak agar tak terlalu mirip dengan ide awal. Taraf modif ini sebenarnya lebih parah lagi dibandingkan dengan yang ke-4. Taraf ke-5 ini seakan-akan adalah pemalsuan. Mengubah ide asal, lalu seolah-olah ide terakhir ini adalah miliknya.

“Seolah-olah milik kita” inilah yang dihasilkan oleh teknologi. Teknologi adalah kemampuan menghasilkan “seolah-olah”. Lihatlah mereka yang menggunakan gadget, buat menampakkan seolah-olah kaya, seolah-olah liburan ke luar negeri, seolah-olah punya mobil, seolah-olah punya dll.

Bijaklah dalam berteknologi.
Salam Sekolah Alam,

Alhas K. Ridhwan, www.malinmudo.com

Rasa Syukur Memiliki Anak

Anak adalah anugerah dari Allah Yang Maha Pemberi. Tidak semua mereka yang telah berkeluarga memiliki anak. Hal ini berarti, anak adalah pemberian yang patut disyukuri. Paradigma ini (bersyukur memperoleh anak) merupakan titik tolak utama kita untuk memulai pendidikan mereka. Orang yang bersyukur lebih mudah mendidik anak dibanding mereka yang merasa bahwa memiliki anak hanyalah sebuah beban.

Betapa banyak kita perhatikan keluarga yang memiliki anak namun tak mampu memberikan pendidikan kepada anak-anaknya. Karena ketidakmampuan ini, anak-anak mereka lebih sering diajak bermain oleh si smartphone, dinasehati oleh si youtube, dipeluk oleh si boneka dan dibimbing oleh si sinetron antah berantah. Hal ini terjadi karena dalam mindset orang tua bahwa anak adalah urusan kedua setelah pekerjaan.

Paradigma keliru ini sudah mesti berganti. Anak adalah pemberian Tuhan. Mereka bukan mesin, bukan pula benda yang dapat diserahterimakan begitu saja kepada smartphone, youtube, boneka atau sinetron. Mereka mesti mendapatkan sentuhan, pelukan, kata-kata, ajakan, diskusi, tukar pendapat, cerita dan ataupun dongeng dari Ayah Bundanya. Sebab Ayah Bundanya lah yang terdekat dengan mereka semenjak mereka lahir.Maka tidaklah mengherankan bila leluhur kita berkata : “Madrasah pertama anak adalah ibunya, lalu ayahnya, kemudian keluarganya, setelah itu masyarakat sekitarnya.”

Ayah Ibu sebagai sekolah pertama. Dalam pengelolaan sekolah ini tentunya dituntut rasa syukur yang begitu dalam. Rasa berterima kasih kepada Allah bahwa anak adalah karunia. Lihatlah Ibrahim yang memuji Tuhan atas karunia anak yang ia peroleh [QS. 14:39]. Ini merupakan starting point kita bila ingin berlari cepat di jalur pendidikan. Tanpa syukur ini, jangan harap anak bisa merasakan pendidikan lebih baik.

Qur’an yang Bukan Teks

Al-Qur’an bukanlah buku yang kamu beli dari toko-toko buku seharga sekian ribu, di luarnya berlabel Al-Qur’anul Karim cetakan Penerbit A, B dan C lalu kamu bawa pulang ke rumah untuk kamu baca atau kamu suruh anakmu membacanya. Itu bukanlah Al-Qur’an. Itu hanya sebuah teks yang tiada berarti sebab itu kamu tidak akan memperoleh berkahnya hanya karena membaca dari buku yang sudah kamu beli itu. Itu hanyalah kumpulan teks, semerdu dan sehebat apapun teknikmu membacanya, ia hanyalah teks yang dibaca. Saya entah perlu mengatakan beruntung atau merugi mendapati Al-Qur’an yang dibeli dari toko buku seperti ini. Sebab ia hanya teks.

Yang pantas dikatakan beruntung menurut saya ialah mereka yang dikirimi Mushaf Qur’an oleh Khalifah Utsman Bin ‘Affan, baik dikirim ke Madinah, ke Mekkah, ke Bahsrah, ke Kufah dan ke Syam. Sebab mereka dikirimi sebuah Mushaf yang berupa teks langsung dikirimkan bersama itu para pembacanya, yang diistilahkan sekarang dengan sebutan Muqri’. Muqri’ ialah orang yang akan mengucapkan Qur’an sebagaimana Rasul mengucapkannya, sehingga misinterpretasi menjadi lebih sedikit. Mereka yang dapat kiriman Utsman ini benar-benar beruntung. Sebab teks diperoleh dengan dikirimi orang yang bertugas membenarkan membacanya bila salah.

Mencontoh ke teknik Ustman ini, artinya, sekarang bila ada yang membeli Qur’an tapi ia tidak membeli Muqri’nya bisa saja ia tersesat di dalam teks.

Maka wajarlah memprihatinkan jika anak-anak sekarang mempelajari Al-Qur’an. Bukan saja anak-anak sekarang, saya pun yang mempelajarinya mesti pula merasa prihatin. Muncul tanya-tanya dalam benak saya :

  1. Sudah betulkah cara saya membacanya sehingga pemahaman saya pun betul?
  2. Sudah seperti itukah maunya Rasul dalam pemahaman saya sehingga yang saya pahami dapat pula saya praktikkan dengan betul?
  3. Bila sudah saya praktikkan dengan betul, apalagi yang mesti saya praktikkan dari Qur’an itu?

Wahai saudara, hari ini kita hanya membaca Qur’an yang berupa teks itu, padahal Qur’an di zaman Rasul mengalir dari mulut beliau tanpa beliau melihat teks seperti kita melihat Qur’an sekarang.

Qur’an yang kita peroleh hari ini adalah teks yang dibaca. Teks yang dibaca tidaklah sama dengan bacaan yang ditekskan di zaman Rasul. Berbeda rasa.

Miskonsepsi Hati

Dalam aktivitas keseharian, kita sering mendengar orang-orang di sekitar kita berkata : “Kalau hati tenang, maka urusan menjadi mudah.” “Tiangnya adalah hati, kalau hati mau semua perkara dapat diselesaikan.” Kalimat-kalimat itu sering terucap, berseliweran di sekeliling kita.

Tapi pernahkah kita bertanya, apa maksud sebenarnya dari kata “Hati” itu? Benarkah “Hati” sumber kemudahan? Benarkah “Hati” yang berkehendak? Padahal sebagaimana yang telah kita pelajari di dalam ilmu-ilmu Sains bahwa hati adalah organ vital bagi tubuh manusia yang berfungsi menawarkan dan menetralisir racun yang masuk ke dalam tubuh, mengatur sirkulasi hormon, mengatur komposisi darah yang mengandung lemak, gula, protein, dan zat lain. Sama sekali hati itu tidak punya fungsi kemudahan! Ia tidak punya fungsi kehendak dan hasrat!

Dengan kata lain, sejak kita mengenal bahasa Indonesia, kita telah salah menggunakan kata “Hati” di dalam percakapan kita sehari-hari. Siapa tokoh utama yang paling bertanggung jawab, yang telah membuat kita menjadi orang salah dalam menggunakan kata “Hati”?

Untuk menjawab semua itu, saya akan mengajak pembaca merujuk kepada Naskah Al-Qur’an Surat Ar-Ra’du [13] ayat 28 :

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

Artinya : “Mereka yang beriman dan tenang Qalbu-qalbu mereka dengan zikir Allah, apakah tidak dengan zikir Allah Qalbu-qalbu itu menjadi tenang?”

Uniknya Naskah Qur’an, ia menggunakan kata Qalbu, bukan Hati. Walaupun banyak terjemahan-terjemahan Qur’an mengartikan Qalbu itu dengan arti Hati. Tetapi percayalah, terjemahan Qalbu dengan makna Hati, adalah terjemahan yang keliru, bila tak ingin disebut salah. Kita akan meninjau asal kata Qalbu itu secara tinjauan lughawiyyah atau kebahasaan.

Qalbu memiliki banyak makna, di dalam kamus-kamus berbahasa Arab, kata Qalbu itu ada kalanya ia disebut dengan istilah Fuâd (فؤاد), aqal yang ada di dalam tubuh dan adakalanya dengan istilah Lubb (اللبّ), isi dan inti dari sesuatu.

Sebagaimana yang dapat kita perhatikan di dalam Al-Qur’an pada surat :

1. Surat An-Nahl [16] ayat 78 :

وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأَبْصَارَ وَالأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya : “Dan Ia (Allah) telah menjadikan bagimu sama’ (singular), abshâr (plural) dan af-idah (plural), mudah-mudahan kamu bersyukur.”

Sama’ ialah kemampuan untuk mendengar, Abshâr ialah kemampuan untuk memiliki sisi pandang yang banyak, dan Af-idah ialah kemampuan untuk memproses dan mengikat.

2. Surat Al-Hajj [22] ayat 46 :

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لاَ تَعْمَى الأَبْصَارُ وَلَكِن تَعْمَى القُلُوبُ الَتِي فِي الصُّدُورِ

Artinya : “ Maka apakah mereka belum berjalan di muka bumi, sehingga mereka punya Qalbu-qalbu yang mereka berakal dengannya, atau Telinga-telinga yang mereka mendengar dengannya, maka sesungguhnya ia tidak menutupi abshâr, akan tetapi ia menutupi Qalbu-qalbu yang ada di dalam Shudhur.”

Qalbu-qalbu ialah sesuatu yang memiliki kemampuan berbolak-balik, kiri ke kanan serta sebaliknya, atas ke bawah serta sebaliknya, depan ke belakang serta sebaliknya. Shudhur ialah tempat yang menjadi sumber segala-galanya.

Pada ayat Qur’an ini, Surat Al-Hajj [22] ayat 46, dapat kita pahami dengan baik bahwa, Qalbu fungsinya adalah untuk berakal, dan telinga fungsinya untuk mendengar. Maka tidak tepatlah bila kita mengatakan Qalbu itu bermakna Hati, karena hati tidak pernah berfungsi layaknya akal. To be continued…

Belajar dari Thalhah

Thalhah bin Abdur Rahman bin ‘Auf adalah keturunan Quraisy yang sangat dermawan di zamannya, maka suatu hari istrinya berkata padanya :

“Aku belum pernah mendapati suatu kaum yang lebih pantas mendapat kehinaan, kecuali hanya saudara-saudaramu?”

Berkata Thalhah kepada istrinya : “Apa yang menyebabkan kamu berkata demikian?”

Istri Thalhah menjawab : “Saya lihat mereka, bila kamu dalam keadaan kaya raya, mereka datang padamu, bila kamu tak punya apa-apa, mereka pergi meninggalkanmu begitu saja,”

Berkata Thalhah : “Ini, demi Allah, adalah tanda mulianya akhlak mereka, mereka datang pada waktu kita sanggup memuliakan mereka, dan mereka meninggalkan kita di saat kita tidak mampu memuliakan mereka.”

Yang menceritakan kisah ini kembali adalah Imam Mawardi, ia berkata : “Lihatlah betapa Thalhah mengartikan kejelekan perbuatan mereka dengan kebaikan. Ini adalah tanda selamatnya hati Thalhah, tenangnya jiwanya di dunia, serta menjadi bekal simpanan baginya kelak di akhirat, dan sebab-sebab yang akan memasukkan seseorang ke dalam surga.”